Mengenal Songkok ‘Anrong’ Guru dari Gowa

oleh -
Songkok guru/nibiring 'bulaeng' ini dipakai oleh ' ANRONG' Guru  kerajaan Gowa, pada saat mengislamkan semua kerajaan bugis termasuk Bone di jaman raja Gowa Sultan Alauddin.
[caption id="attachment_996" align="alignnone" width="300"] Songkok guru/nibiring ‘bulaeng’ ini dipakai oleh ‘ ANRONG’ Guru  kerajaan Gowa, pada saat mengislamkan semua kerajaan bugis termasuk Bone di jaman raja Gowa Sultan Alauddin.[/caption]

Makassar, Mitrasulawesi.id — Songkok atau peci tradisional Makassar, Sulawesi Selatan, biasa disebut songkok guru/nibiring bulaeng menjadi penutup kepala “wajib” bagi lelaki Makassar dalam setiap acara adat. Namun, pemakaian songkok itu telah meluas dan kerap digunakan dalam acara-acara formal selain adat.

Bentuknya bundar dan kaku karena terbuat dari serat pelepah lontar. Anyaman lontar dipadukan dengan benang sutra berwarna emas yang menutupi bidang seukuran koin di bagian pangkal songkok dan separuh garis kelilingnya. Warna songkok ini lazimnya hitam, cokelat, atau krem.

Songkok ini menjadi simbol budaya orang Makassar dan bugis begitupun mandar, seperti halnya blangkon pada orang Jawa. Modelnya pun tak pernah berubah sepanjang zaman.

Salah satu pusat kerajinan pembuatan songkok guru terdapat di Desa Sawakung, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulsel. Desa pesisir itu berjarak 35 Kilometer arah selatan Kota Makassar.

Di desa itu, para pengrajin yang seluruhnya merupakan warga setempat, bernaung pada sanggar bernama “Anging Mamiri”. Produksi dilakukan di rumah-rumah warga lalu dipasarkan di sanggar, atau sebaliknya, sanggar menerima orderan pembuatan dan diserahkan kepada warga untuk dibuat di rumah masing-masing.

Ketua sanggar “Anging Mamiri” Munawarah mengatakan dalam satu bulan, produksi songkok paling tidak bisa mencapai 1.000 buah. Terdapat 25 pengrajin tetap di sanggar tersebut.

“Hasil produksi dipasarkan ke berbagai toko oleh-oleh di Makassar dan Bandara Sultan Hasanuddin,” kata Munawarah.

Songkok ini telah menjadi salah satu oleh-oleh khas Makassar yang diminati wisatawan. Selain songkok guru, sanggar juga memproduksi songkok jolong, atau songkok yang bentuknya sama seperti peci pada umumnya namun tetap berbahan serat Lontara.

Pada pada bulan Ramadhan, produksi songkok guru Desa Sawakung melonjak hingga mencapai dua kali lipat dibandingkan bulan biasa. Untuk memenuhi permintaan, sebagian produksi diperbantukan ke dua desa tetangga, yakni Desa Bontokasi dan Desa Barammamase.

Songkok guru di sanggar “Anging Mamiri” dijual dengan harga antara Rp 150.000-Rp 350.000 per buah. Semakin rapat dan halus anyamannya, semakin tinggi harganya. Berdasarkan permintaan, benang sutera berwarna emas itu bisa pula diganti dengan benang emas asli.

Namun, harga songkok berlapis emas bisa mencapai jutaan rupiah, bergantung kadar dan jumlah emas yang digunakan. Munawarah mengatakan, ia pernah menerima orderan membuat songkok guru yang dilapisi benang emas seberat 60 gram.

“Jika pemesanan songkok lapisan emas, kami perhitungan harga emas sekarang yang mencapai kisaran Rp 430.000 per gram, maka songkok itu kini bernilai setidaknya Rp 25,8 juta,” ucapnya.

Munawarah mengatakan, pembuatan songkok masih dilakukan secara tradisional, dan sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan pengrajin. Lama pembuatan satu buah songkok berkisar sepuluh hari hingga satu bulan. Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan keahlian menganyam yang tinggi.

“Pada tahap awal, bahan baku pelepah lontar harus direndam dalam air beras selama 14-30 hari untuk melunakkan serat. Makin tua umur pohon lontar yang digunakan, makin halus serat pelepahnya,” paparnya.

“Setelah perendaman, pelepah lontar dipukul-pukul untuk mengurai seratnya. Serat yang telah dipisahkan dari pelepah lalu dicuci, dikeringkan, dan dicelupkan pewarna yang diinginkan. Serat yang telah menjadi benang-benang tebal itu lalu dianyam menjadi songkok di atas cetakan kayu bundar”tutupnya. (ENG/Kompas/Tim)