Resiko Terburuk Bagi Warga Selayar Jika Tidak Mematuhi Himbauan Pemerintah

oleh -0 views

SELAYARMITRASULAWESI.ID – Seiring dengan perkembangan data sementara penyebaran virus Korona dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Kepulauan Selayar pada Sabtu 2 Mei 2020, dirilis sebanyak 2 Positif, 3 PDP dan 73 ODP. Menyusul tambahan 2 orang warga Bontosikuyu yang juga di karantina serta menunggu hasil swab dari 20 orang penumpang wings air yang sementara di karantina di 3 hotel di Benteng Selayar.

Baca Juga: Warga Belum Dapat Bantuan Sosial, Bupati Gowa Siapkan Layanan Call Center

Resiko terburuk dari penyebaran virus corona ini diungkapkan dr. Frengki Wijaya, Minggu (3/5/20), Ia mengatakan bahwa sekian lama kita bertahan untuk tidak meloloskan virus ini ke Selayar. Tapi akhirnya sepekan lalu, Selayar bobol juga, dan salah satu penyebabnya adalah banyak interaksi dari luar dan bentuk kesadaran dalam mentaati himbauan Pemerintah.

Sementara fasilitas rumah sakit, tenaga medis, dan alat pelindung diri, bisa dibilang jauh dari mencukupi dan memadai dibanding dengan daerah lain di Sulawesi Selatan. Hal ini mendesak untuk mendapat perhatian Pemerintah.

“Sebagian dari kita juga belum menyadari betul tentang resiko pergerakan manusia yang rentan terpapar, bila tidak jaga jarak, tidak menggunakan masker, dan tidak rajin cuci tangan,” kata dr. Frengky.

Baca Juga: Hardiknas, Apakah Hanya Sekedar Euforia ?

Namun, seiring pergerakan orang dari wilayah yang menjadi episentrum penyakit ini. Orang Selayar yang kembali ke Selayar jelang awal bulan puasa lalu terpantau cukup ramai. Tentu jika ini tidak dapat teratasi menjelang lebaran nanti, baik itu yang lewat pesawat udara maupun lewat laut menggunakan kapal feri atau kapal laut pengangkut barang dan kapal ikan. Akhirnya daerah ini kemudian sudah bisa disebut daerah terjangkit Covid-19.

“Bila ada pasien positif virus corona yang mengalami gejala berat, dan memerlukan perawatan intensif dengan peralatan apa adanya, maka tentu kita akan sangat terbatas, mengingat rumah sakit kita hanya sebagai rumah sakit penyangga dengan fasilitas yang tidak memungkinkan merawat kasus berat covid-19, dibanding dengan rumah sakit di Makassar atau di Bulukumba dan Bantaeng serta daerah lainnya,” ujar dr. Frengky Wijaya.

Baca Juga: Jubir Gugus Tugas Covid-19 Umumkan 2 Orang Kasus Positif di Selayar

Demikian juga kamar isolasi dirumah sakit, kalau ada pasien positif yang bersamaan, maka dipastikan akan kesulitan karena ruang yang terbatas, kemudian tempat tidur yang ditujukan untuk merawat pasien kritis tidaklah banyak. Jika kemudian, kemungkinan terburuk terjadi didaerah yang jumlah penduduknya lebih dari 100 ribu jiwa, maka sudah dipastikan sebagian besar penderita tidak akan terlayani sesuai standar pelayanan pasien covid-19. Tak hanya itu, ketersedian tenaga perawat, bidan dan dokter jumlahnya sangat terbatas.

Sekiranya, jika ada rujukan pasien kasus berat covid-19, ini pun punya tantangan tersendiri. Dimana daerah kita butuh waktu dalam perjalanan hingga sampai ke rumah sakit rujukan. Ini juga bagian resiko terburuk yang perlu kita hindari. (Tim/Lo2)

Baca Juga:  Bupati dan Kepala BBIHP Bahas Peningkatan Daya Saing Industri di Selayar