Opini: Didiklah Anak Sholat, Supaya Ia Selamat

oleh -
oleh

Opini, MitraSulawesi.id– Rabu, 11 Januari 2023. Hari kedua saya mengikuti Tarbiyah di rumah Pak Yamin. Seperti biasa, sebelum peroses Tarbiyah dimulai kami membaca beberapa ayat di dalam Al-Qur’an. Saat itu kami membaca Surah Ibrahim, salah satu ayat yang kami baca yang isinya seperti ini “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku”. (QS Ibrahim: 40).

Merujuk dari ayat di atas, salah satu doa dari Nabi Ibrahim adalah mendoakan anak cucunya untuk senantiasa menjaga sholatnya. Seperti kata Ustadz Syahrul Mubarak, “Sangat penting bagi kita (orang tua) untuk senantiasa mendidik dan mendoakan anak-anak kita supaya bisa menjaga dan melaksanakan sholatnya”.

Beberapa orang tua terkadang lebih bangga jikalau anak-anaknya berprestasi di sekolah ketimbang jikalau anaknya sudah mampu melaksanakan dan menjaga sholatnya.

Sehingga orang tua lebih cenderung memotivasi anaknya untuk meraih kesuksesan di dunia dan lupa mengajarkan anaknya untuk mempersiapkan bekal ketika kelak ia meninggal dunia.

Baca Juga:  Dampak COVID-19 Terhadap Perekonomian Perusahaan
Penulis, Jurnalis MitraSulawesi, Hamka Pakka

Cara mendidik anak untuk sholat 

Kata nabi “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya.” (H.R Abu Daud).

Hadis di atas merupakan suatu bentuk penegesan untuk mendidik seorang anak untuk melaksanakan sholat sejak ia berusia 7 tahun sampai ia berusia 10 tahun. Jadi, hanya 3 tahun waktu orang tua bisa mendidik anaknya untuk sholat sehingga ketika seorang anak beranjak remaja atau dewasa ia sudah mampu menjaga sholatnya akibat peroses pendidikan orang tuanya selama 3 tahun itu.

Saya teringat ketika saya kanak-kanak, saya sering di ajak oleh kakak saya pergi sholat bersama-sama dan membetulkan tata cara saya sholat jikalau salah. Meski yang mendidik saya sholat bukan bapak saya dikarenakan ia telah di panggil oleh sang maha kuasa tatkala saya berusia kurang lebih 1 bulan saat itu, saya masih sangat bersyukur karena masih memiliki seorang kakak yang mau meluangkan waktunya untuk mendidik saya supaya saya bisa membiasakan diri untuk sholat. Alhamdulilah, berkat pendidikannya itulah saya sedikit menyadari betapa pentingnya yang namanya sholat, meski kualitas sholat saya masih jauh dari kata sempurna.

Baca Juga:  Opini : Pentingnya Pengawasan Dan Supervisi Pendidikan Agama Islam

Timbul suatu pertanyaan, bagaimana jikalau seorang anak berusia 10 tahun ia masih malas-malasan untuk melaksanakan sholat? Kalau merujuk hadis di atas kata nabi “Pukullah”.

Kata “Pukullah” disini bukan berarti satu-satunya tafsirannya adalah pukulan fisik, tidak seperti itu, kalau kita merujuk pada teori pendidikan kata “Pukullah” disitu bisa saja berarti pemberian punishment atau hukuman. Misalnya, anak kita lalai terhadap sholatnya karena keasyikan bermain media sosial atau game di gadgetnya atau yang saat ini lagi viral lalai karena bermain latto-latto. Berarti, hukuman yang bisa diberikan orang tua terhadap anaknya adalah dengan cara menyita gadget atau latto-lattonya dengan durasi waktu yang lama dan mengembalikannya setelah si anak menyadari kesalahannya. Pemberian hukuman kepada seorang anak itu tergantung karakter seorang anak. Makanya, penting bagi orang tua juga memahami ilmu parenting.

Baca Juga:  Opini : Guru Di Era Pandemi

Jadi, penting bagi orang tua untuk mendidik anaknya untuk sholat sejak dini, supaya kelak sholat seorang anak itulah yang menjaga dirinya dari perbuatan keji dan yang dimungkari oleh Allah SWT. Sebagaimana janji Allah “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”. (QS Al-Ankabut: 45). Allahu A’lam Bishawab.

Penulis, Hamka Pakka