Menjadikan Pion Sebagai Panglima

oleh -
Menjadikan Pion Sebagai Panglima
Ilustrasi

Oleh : Septian Raharjo

Ingin sekali saya berbisik di telinga Jokowi: “Pak, dimana-mana yang namanya pion itu nggak bisa langsung jadi panglima besar. Ia harus melewati sepetak demi sepetak sampai ujung. Kalau mengubah aturan seenaknya sendiri, ya sudah main sendirian saja, kami nggak ikut-ikutan.”

 

Tapi aku mengurungkan niat dan memilih menuliskannya di sini, di tempat yang jauh dengan perasaan getir, sebab aku tahu telinga Jokowi tidak lagi sepeka dahulu.

Jika Pilpres ibarat pertandingan catur, seharusnya akan menjadi pertunjukkan yang sangat menyenangkan. Namun jika ada pemain yang mulai menyingkirkan sportifitas, itu akan menjadi sangat menjemukan. Sebab yang dipertontonkan bukan lagi gagasan, melainkan praktek-praktek keculasan dan adu otot. Aku kira dari sana lah kegaduhan ini bermula.

Baca Juga:  Jusuf Kalla: Lewat Nilai Pancasila, Kita Harus Membantu Masyarakat Rohingya

Tidak ada yang mempersoalkan hak politik seseorang, termasuk Gibran tentu saja. Bahkan, hampir sebagian besar masyarakat juga menyetujui konsep keberlanjutan program Jokowi. Namun jika cara-cara yang dipakai harus menghalalkan segala cara, masyarakat menilai keberlanjutan yang dimaksud Jokowi tak lain sekedar mewarisi tahta kepemimpinan untuk putra mahkota.

Jika adab dan etika yang dipinggirkan, jika lembaga negara digunakan untuk kepentingan keluarga, sangat wajar jika banyak orang menganggap bahwa yang sedang dibela mati-matian Jokowi adalah hawa nafsunya sendiri.

Baca Juga:  Bupati dan Wakil Bupati Selayar Terima Kunjungan Direktorat PSKBA Kemensos dan Dinsos Sulsel

Bayangkan, jika berangkatnya saja harus menggendong masalah dengan menerabas aturan, bukan tidak mungkin dalam pertarungan nanti apa saja akan digunakan. Mungkin hari ini Mahkamah Konsititusi, besok kita tidak tahu lembaga apa lagi yang akan digunakan.

Catur yang mestinya menjadi permainan adu strategi, adu kesolidan, tak bisa lagi dinikmati karena semua berjalan dengan tidak wajar. Kuda yang seharusnya melangkah leter L, mendadak berjalan lurus, dan seterusnya. Pendukung pun bingung harus protes kemana.

Kekawatiran semacam inilah yang aku lihat ada pada tubuh pendukung Anies Baswedan maupun Ganjar Pranowo. Bukan soal kalah menang, namun sesuatu yang jauh lebih besar dari itu; kekacauan nasional. Harga diri tak bisa selamanya diinjak-injak, dan itulah hukum alam.

Baca Juga:  Cegah Wabah Covid-19, TNI-Polri dan Pemerintah Door To Door Kerumah Warga

Tapi aku percaya, kita masih menjunjung nurani dan mengedepankan akal sehat. Kita masih memiliki rasionalitas dalam bersikap, untuk terus berada di sisi kebenaran. Itulah satu-satu harapan yang jangan sampai ikut hilang.

Tulisan ini dikutip dari grup WhatsAap.


Eksplorasi konten lain dari mitra sulawesi

Mulai berlangganan untuk menerima artikel terbaru di email Anda.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.