Tubarania Bajeng Mengingat Sejarah Kemerdekaan, dan Kaitan Kerajaan Gowa

oleh -9 views
Pidris Zain (baju adat) saat menjadi pembina Upacara di HUT 74 Aru Turania Bajeng.
[caption id="attachment_250" align="alignnone" width="200"] Pidris Zain (baju adat) saat menjadi pembina Upacara di HUT 74 Aru Turania Bajeng.[/caption]

Gowa,Mitrasulawesi.id– Yayasan Balla Lompoa Limbung, menggelar HUT Gaukang Tu Bajeng, yang ditandai dengan panaikan bendera merah putih, dilaksanakan di Balla Lompoa Limbung.

telah dikibarkan di Bungun Barania Bajeng Kab Gowa. 74 tahun silam pasca momen bersejarah tersebut, kini kembali diperingati dalam acara HUT Gaukang Tu Bajeng, yang dilaksanakan di Balla Lompoa Limbung.

Gaukang Tu Bajeng dimulai dengan acara adat Assussuru Bendera Jole-jole, sebagai bendera pusaka yang ada di Balla Lompoa bersama dengan bendera merah putih. Acara tersebut didampingi oleh Appaka Batang Banua. Setelah itu dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah putih diiringi oleh lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pengibaran tersebut dilakukan oleh Paskibraka pemuda Bajeng, Rabu 14/8.

Setelah bendera merah putih dikibarkan, Lurah Limbung yang juga bagian dari keluarga besar Tu Bajeng, membacakan sejarah singkat peristiwa 14 Agustus yang terjadi 74 tahun silam, kemudian dilanjutkan dengan acara Aru Tubaria Bajeng.

Adapun yang menjadi pembina upacara dalam kegiatan, Gaukang Tu Bajeng yakni Ahmad Pidris Zain (APZ), yang mewakili keluarga besar Tu Bajeng. Selain bertindak selaku pembina upacara, Pidris juga menyampaikan Sekapur Sirih.

Dalam sekapur sirihnya, Pidris mengulas tentang kesejarahan Bajeng yang sesungguhnya. Pidris mengurai secara detail keterkaitan dan kedudukan antar Karaeng Loe Ri bajeng dengan Raja Gowa pada masa kerajaan. Dalam ulasan tersebut, para undangan dan tamu yang hadir di berikan gambaran yang jelas tentang seperti apa sebenarnya sejarah bajeng yang sesungguhnya, termasuk sosok Karaeng Loe Ri Bajeng yang dalam sejarah Bajeng, sosok tersebut menjadi misterius.

Selain itu, Pidris juga menegaskan seperti apa posisi Bajeng dalam Kerajaan Gowa. Adapun inti dari sekapur sirih tersebut adalah, posisi Bajeng sama sekali tidak bisa dikesampingkan dalam sejarah kerajaan Gowa, yang begitu besar dan pernah berjaya di masa lampau.

“ Ia pa Antu na Assa Sombayya Ri Gowa, Punna Anyombai Tu Bajenga (Orang Bajeng adalah orang pemberani, dan Raja Gowa akan sah menjadi raja jika diakui dan disahkan oleh Karaeng Loe Ri Bajeng), tutur Pidris dengan bahasa Makassar.

[caption id="attachment_249" align="alignnone" width="300"] Kegiatan Gaukang Tu Bajeng yang di hadiri beberapa unsur Stakeholder.[/caption]

Dalam acara tersebut turut hadir Kapolres Gowa, Dandim Gowa, dan Kepala Dinas Pariwisata Kab Gowa. Selain unsur pemerintah, juga turut hadir beberapa pemangku adat di berbagai daerah, seperti Andi Makmur Sadda dari Takalar, Raja Bira, serta beberapa raja dari beberapa daerah. Putra Mahkota dari raja Lampung juga turut hadir menyaksikan acara tersebut.

Sekretaris Panitia Muh Sadikil Wahdi, S.AP mengaku, sangat bersyukur kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik, sekalipun persiapan yang dilakukan cukup sempit dan beberapa dinamika yang harus dilaluinya.

“Kami selaku Panitia terjung langsung, menghadapi dinamika dalam rangka mensukseskan acara ini. Selain waktu yang memang sempit, dinamika dilapangan juga luar biasa. Gaukang Tu Bajeng ini, sebenarnya sebagai modal bagi kami selaku panitia, dalam rangka menyambut acara kongres Pemuda Bajeng yang akan dilaksanakan nantinya. Makanya kami berjuang dengan segenap upaya dalam rangka mensukseskan acara ini,” ungkap Wahdi.

Tak lupa pula panitia Acara HUT Gaukang Tu Bajeng yang ke 74, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu dan berkontribusi demi terlaksana acara ini.

“Semoga kegiatan yang lebih besar lagi dapat dilaksanakan untuk waktu yang akan datang,” harap Sadikil Wahdi.(*)