Jusuf Kalla Soroti Peran Civil Society dalam Kegiatan Kemanusiaan

oleh -

Ia juga menyinggung pengalamannya saat menangani berbagai konflik di Indonesia pada awal 2000-an, seperti di Poso, Ambon, dan Aceh, yang saat itu menyebabkan sekitar 1,5 juta orang mengungsi.

Dalam kesempatan tersebut, Kalla turut menyoroti pentingnya gotong royong dalam penanganan bencana. Ia menyebut keterlibatan masyarakat luas menjadi kunci keberhasilan berbagai aksi kemanusiaan, termasuk saat bencana tsunami Aceh dan pandemi COVID – 19.

Sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Kalla menjelaskan bahwa kepercayaan publik (trust) menjadi modal utama dalam menggerakkan bantuan.

Dengan adanya kepercayaan, masyarakat bisa lebih antusias terlibat menjadi relawan dan bahkan ikut mendanai kegiatan kemanusiaan tersebut.

“Contohnya dana PMI berasal dari masyarakat. Mereka percaya bahwa bantuan yang diberikan akan disalurkan dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, PMI saat ini didukung sekitar 1,5 juta relawan yang terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, tenaga medis, hingga masyarakat umum.

Kalla juga menekankan pentingnya pendekatan logika, pemahaman akar masalah, serta keberanian dalam menyelesaikan konflik sosial, termasuk konflik berbasis agama.

“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan membunuh orang lain tanpa alasan. Pendekatan ini yang kami gunakan dalam menyelesaikan konflik di Poso dan Ambon,” katanya.

Sementara terkait semakin banyak bencana alam yang terjadi di Indonesia, JK meminta universitas ikut bahu-membahu mengatasi penyebab terjadinya bencana alam.

“Di sini kita berharap kampus bisa membuat penelitian yang langsung berdampak terhadap upaya menghindari bencana alam. Termasuk bagaimana cara agar alam jangan rusak,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *