AS menerima gencatan senjata ini bahkan tanpa sepengetahuan PM Israel Netanyahu, Netanyahu menolak gencatan senjata ini apalagi 10 poin yang diajukan Iran termasuk penghentian perang dengan HZB di Lebanon.
Penghentian perang dengan HZB Lebanon adalah kerugian besar bagi Israel, karena HZB selama perang ini telah menyebabkan kerugian besar di Israel, dan akan terus menimbulkan ancaman serius bagi keamanan Israel jangka panjang.
Makanya Netanyahu awalnya mengatakan, walaupun gencatan senjata dengan Iran sudah disetujui trump, tapi Netanyahu ngotot, bahwa ini tidak termasuk dengan HZB Lebanon. Tapi Trump menekan Netanyahu agar menerima semua kondisi, dan sekarang Netanyahu telah menerima gencatan senjata termasuk dengan HZB Lebanon atas tekanan Trump.
Kenapa AS menerima gencatan senjata ini?
Pertama:
Kondisi di lapangan sangat tidak mungkin melanjutkan perang, Trump kalah secara moral, kalah secara militer, kalah dukungan dalam negeri, tekanan luar negeri yang terus meningkat.
Kedua:
Selat Hormuz yang tidak memiliki peluang dibuka dengan cara apapun termasuk cara militer oleh AS.
Ketiga:
Iran mengancam akan menutup selat bab Al Mandeb oleh Houthi. Dan akan melakukan serangan besar-besaran ke seluruh negara teluk aliansi AS Jika AS berani mengeksekusi ancaman Trump yang akan menghapuskan peradaban Iran dalam semalam seperti sudah pernah dia sebutkan sebelumnya.
Keempat:
Tekanan ekonomi dan domestik yang meningkat seiring naiknya harga harga energi global dan kacaunya wilayah teluk, Melanjutkan perang akan semakin beresiko bagi AS dan sekutunya.
Kelima:
Trump juga terancam digulingkan dari dalam efek perang berlarut yang telah banyak merugikan AS, Trump juga mendapatkan tekanan atas kegagalan operasi Isfahan dua hari lalu saat melakukan penyelamatan pilot. Kerugian AS terlalu besar dalam misi itu.
Keenam:
Korban dan kerugian di pihak AS dan Israel yang meningkat sehingga memberikan konklusi narasi bahwa perang ini gagal dimenangkan AS( 750 korban tentara, 40 miliar dolar lebih secara dana, 17 pangkalan militer di teluk hancur, dan kehancuran sekutu di wilayah timur tengah.
Gencatan senjata ini bukan apa yang diinginkan Trump dan Netanyahu, tapi kondisi di lapangan tidak memungkinkan lanjut, karena kegagalan demi kegagalan AS dan Israel terus berlangsung dalam mencapai tujuannya di Iran.
Perang ini semakin tidak lagi populer, karena kegagalan militer AS dan Israel diikuti oleh kegagalan narasi dan media di lapangan, ditambah dengan realitas daya tahan bangsa Iran yang tak tergoyahkan selama lebih 41 hari perang berlangsung.
Kombinasi faktor faktor tadi menghasilkan gencatan senjata yang tak diinginkan oleh AS dan Israel itu sendiri.
Tapi ceasefire ini sifatnya masih sangat fragile, semua poin yang diajukan Iran adalah poin poin bunuh diri bagi AS dan Israel. Terutama dalam hal Selat Hormuz, isu Uranium, dan sanksi AS terhadap Iran.
Bukan hanya Israel, sekutu AS di teluk terutama Arab Saudi dan UAE juga merupakan pihak yang tidak menginginkan gencatan senjata terjadi. Sejak awal, Arab Saudi dan UAE telah firm mendorong AS melanjutkan perang dengan Iran sampai akhir, sampai Iran kalah. Dengan realitas ini, Iran mencapai kemenangan telak dalam perang saat ini.
Iran menang telak jika dilihat dari beberapa faktor substansial yang sangat krusial.
Satu:
Rezim Iran tidak tumbang seperti cita cita AS dan Israel sejak awal perang.
Dua:
Uranium sebanyak 440,9 kg yang sudah diperkaya sampai 60% saat ini masih ada ditangan Iran dan tersimpan aman dan rahasia.
Tiga:
Selat Hormuz yang tidak terbuka, bahkan di tengah ceasefire ini, Selat Hormuz tetap dikuasai Iran, melewati Selat Hormuz masih harus lewat kordinasi dengan angkatan bersenjata Iran dan harus tetap bayar.
Empat:
Proxi Iran dari HZB Lebanon sampai Yaman masih akan beroperasi, masih kuat, dan tidak lepas dari kendali Iran seperti yang diinginkan oleh AS dan Israel.
Lima:
Sanksi primer dan sanksi sekunder harus dicabut oleh AS terhadap Iran, termasuk mencairkan aset aset Iran yang selama ini dibekukan AS.
Semua pertimbangan faktor faktor substansial dan krusial tadi membuat perang ini bagi AS dan Israel menjadi beban berat, beban politik domestik, beban geopolitik, beban ekonomi dan beban moral pemerintahan Trump terutama.
Semua capaian objektif yang ingin dicapai AS dan Israel sama sekali tidak tercapai dalam perang ini dan mereka dipaksa keadaan untuk menyerah, apa artinya melanjutkan perang jika pemerintah Iran tidak tumbang, nuklir masih ditangan Iran, Selat Hormuz masih tutup, dan proxi Iran masih kuat.
Prediksi dua pekan kedepan masih sangat rawan dan rapuh, AS dan Israel akan berupaya keras menurunkan semaksimal mungkin permintaan Iran.
Tapi melanjutkan konfrontasi militer setelah dua Minggu juga bukan pilihan yang mudah setelah semua kondisi lapangan yang hancur hancuran. mau tidak mau, suka tidak suka, Israel dan AS harus bisa menemukan win win solution dengan Iran se elegan mungkin agar perang ini bisa berhenti permanen. Ini tantangan semua pihak.
Masa depan perang ini masih sangat rapuh, Iran dan Israel akan terus menjadi rival abadi GeoPolitik di kawasan itu, dengan semua dimensinya, dan posisi AS yang selalu siap mendukung Israel kapanpun saja walaupun setelah perang ini, semua tidak akan menjadi mudah dan akan lanskap GeoPolitik yang akan berubah total di seluruh kawasan itu.
Tapi kemenangan Iran dalam perang kali ini bukan hanya karena balistik dan dengan senjata canggih, tapi Iran menang daya tahan dan mental kuat seluruh bangsa Iran, Iran menang narasi dan tekad ril di lapangan.
Iran menang karena by nature, ini adalah sikap natural bangsa Iran yang melawan dengan satu mindset kolektif, bahwa perang ini adalah perang eksistensial, perang antara pertaruhan ada dan tidak adanya Republik Islam Iran, Iran menang karena memiliki tekad yang kuat mengalahkan musuh, dan mereka membuktikan itu walaupun dengan sangat berdarah darah.
Tengku Zulkifli Usman
