FKN XIII, Wartawan Dibentak dan Diusir saat Pentas I La Galigo

oleh -0 views
Di duga pelaku yang mengusir dan membentak wartawan saat pementasan I La Galigo.

Lutim, mitrasilawesi.id — Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-XIII, tercoreng dengan tindakan oknum panitia yang berada di Luwu Timur.

Kegiatan FKN yang telah berlangsung sejak 7-13 September ini pu, kini berlabuh di Luwu Timur, dan pementasan drama I La Galigo yang diselenggarakan di lapangan Gaswo Wotu.

Hal ini diungkapkan beberapa Wartawan mendapat perlakuan kasar, saat hendak melakukan peliputan, Rabu 11 Agustus 2019.

Salah satu oknum yang mengaku Panitia dari Luwu Timur, melarang masuk media untuk melakukan peliputan, dengan menggunakan baju hitam yang bertuliskan “I La Galigo”, dengan memakai anting, yang menghalangi beberapa wartawan untuk melakukan tugas peliputan.

[caption id="attachment_1723" align="alignnone" width="148"] Raja/Sultan bersama permensuri saat ingin memasuki tempat pentas I La Galigo.[/caption]

Oknum tersebut membentak bahkan mendorong salah satu wartawan saat akan masuk di dalam pagar.

Meski telah di ijinkan salah satu pihak dari salah satu orang tua yang berada dalam pagar, tetapi para wartawan tetap mendapat tindakan tidak meyenangkan.

“Kami telah memperlihatkan ID Card resmi Pers dari Kedatuan Luwu, oknum tersebut tetap tidak mengijinkan kami masuk, bahkan mendorong dan membentak kami,” keluh Muh Fajrin dari media Tajukutama.com.

Sementara itu pihak panitia dari Luwu Timur yang belum di ketahui identasnya, mengatakan bahwa dia bertanggung jawab atas kegiatan ini, sehingga harus melakukan pengamanan ekstra.

” Saya yang bertanggung jawab atas kegiatan ini, siapa suruh masuk. Tidak ada yang boleh masuk kalau saya yang larang,” bentak laki-laki yang berambut gondrong tersebut.

Hal ini mendapat perhatian dari Bendahara Umum Jurnalis Online Indonesia (JOIN) kota Palopo, Riska merasa sangat menyayangkan perlakuan dari oknum tersebut.

“Sangat disayangkan sikap premanisme seperti itu ada di kegiatan seperti ini. Kita sudah perlihatkan ID Card Pers, kita sudah jelaskan bahwa kami ini dari Pers, dan bekerja dari Media yang berbeda dan bahkan kami adalah rombongan Raja-raja dan Datu Luwu, tapi dia malah bentak dan bahkan mendorong kami,” tutur Riska yang juga mendapat perlakukan yang sama saat meliput.(Rin/WD)