Mengupas Peradaban Pattallassang, di Masa Lampau di Hadiri Raja Gowa

oleh -

Gowa,Mitrasulawesi.id– Pelestarian Budaya yang ada di Gowa terus di genjot para pelaku Adat, sebagai bukti kecintaan terhadap nilai sejarah, seperti yang  dilakukan, Lembaga Adat Karaeng Pattalassang (LAKP) Bekerjasama dengan Desa Pallantikang kabupaten Gowa, Kamis 20 Mei 2021.

Kegiatan Dialog Kebudayaan yang dilaksanakan di kantor Desa Pallantikang, menghadirkan Perwakilan Balai Pelestarian Nilai Budaya Drs.Nur Alam Saleh M.Pd, Perwakilan Balai Arkeologi Syahruddin Mansyur, M.Hum, Perwakilan Balai Pelestarian Cagar Budaya Drs. Haeruddin Assegaf MM, Raja Gowa ke-38 PYM Andi Kumala Idjo Karaenta Lembang parang sultan Malikusaid Batara Gowa 3, dan Muh Idris Mone M.Kes Daeng Mappakaya.

Kegiatan yang dihadiri dari berbagai organisasi, maupun pemangku adat di Gowa, di buka dengan penyambutan Ngaru dan Tari Paduppa.

Kepala Desa Pallantikang Usman Lira Daeng Paewa, menyambut baik kegiatan Dialog yang  diselenggarakan Lembaga Adat Karaeng Pattalassang, menurutnya kegiatan ini sebagai bentuk Pelestarian nilai budaya yang sudah mulai luntur di makan zaman.

“Kami bersyukur masih ada rumpun keluarga Karaeng Pattalassang, yang mau menjaga Pelestarian kebudayaan ini, apalagi Patallassang ini memang punya historis yang panjang di masa lampau,” ucap Usman saat memberikan sambutan.

Kegiatan dengan tema “Mengupas Peradaban Pattalassang, di Masa Lampau” semakin menarik dengan penayangan vidio situs sejarah yang ada di Gowa, diantara adanya Makam Dampang Daeng Ma’Lotteng sebagai pimpinan wilayah (Raja) pertama di Pattalassang, adanya Bungung Lompoa  (Sumur Besar) yang diyakini sudah berumur ratusan tahun, adanya batu Pallantikang sebagai tempat pelantikan para raja raja dimasa lampau, Danau Kalaborang yang dianggap punya Historis panjang dalam dunia sejarah, dan beberapa makam makam tua yang dinilai sudah berumur ribuan tahun.

Muhammad Yusuf Mone, Daeng Ma’Lotteng yang juga ketua Panitia pelaksana menyebutkan bahwa kagiatan yang diselenggarakan sebagai bentuk Pelestarian buat generasi muda.

“Saat ini kami miris melihat kondisi kebudayaan yang sudah mulai pudar, apalagi generasi muda sudah buta dengan sejarah dan peradaban yang pernah ada, hal ini lah yang mendorong kami menggelar kegiatan Dialog Kebudayaan untuk menjaga Pelestarian itu,” tutur Yusuf Mone sapaan akrabnya.(rls/tim)