HIMAJIP UINAM Gelar Seminar Nasional, Dari Asmaraloka Perpustakaan Jembatan Pengetahuan

oleh -
Sesamata Fest II resmi berlangsung hari ini, Event literasi tahunan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (HIMAJIP) UIN Alauddin Makassar (UINAM) berlangsung hingga tanggal 02 Oktober mendatang. Senin (27/09/2021).

Gowa, MitraSulawesi.id– Sesamata Fest II resmi berlangsung hari ini, Event literasi tahunan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (HIMAJIP) UIN Alauddin Makassar (UINAM) berlangsung hingga tanggal 02 Oktober mendatang. Senin (27/09/2021).

Walau secara virtual bukan jadi kendala HIMAJIP dalam penyebaran pengetahuan dan membudayakan literasi. Maraknya perilaku intoleransi yang terjadi di Indonesia menjadi alasan Asmaraloka yang berarti cinta kasih sebagai tema sentral pada event ke-2 Sesamata kali ini.

Ketua Umum HIMAJIP, Trisna Damayanti dalam sambutannya berharap perpustakaan bisa menjadi jembatan pengetahuan masyarakat sebagai upaya penyaluran informasi tentang pemahaman toleransi.

“Melaui Asmaraloka harapannya kita bisa melihat bagaimana peran perpustakaan dalam menjembatani pengetahuan masyarakat tentang pemahaman toleransi itu bisa terwujud. Dengan itu juga perpustakaan sebagai ruang yang penuh cinta kasih dengan penyebaran informasi pada sosial kultur masyarakat.” Ungkapnya.

Seminar Nasional dengan tema “ Perpustakaan Melawan Intoleransi” menjadi pembuka pada event tersebut. Menghadirkan Drs. Muhammad Syarif Bando, M.M yang merupakan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai Keynote Speaker, juga narasumber yang ahli dalam bidang kepustakaan dan informasi yaitu Putu Laxman Pendit, Ph. D., Merupakan Peneliti dan Dosen Ilmu Perpustakaan Royal Melbourne Institute of Tecnology, Dr, Laksmi, S.S., M.A. yang juga Dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, dan Agus Rifai S.Ag., S.S., M. Ag., Ph.D. merupakan Pustakawan UIN Syarif Hidayatullah.

Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UINAM , Irvan Mulyadi, S.Ag., S.S., MA. Berharap kegiatan tersebut sebagai landasan pengetahuan untuk merealisasikan peran perpustakaan dalam memecahkan masalah kebangsaan dan kemanusiaan dalam kehidupan.

“Memikirkan tentang isu-isu yang dihadapi oleh negara kita yakni isu radikalisme dan fundamentalisme yang belakangan merasuk dan meracuni masyarakat kita, oleh karena itu dengan tema yang di usung terkait bagaimana perpustakaan melawan intoleransi, dari keynote speaker dan dari narasumber-narasumber kita bisa tercerahkan tentang bagaimana perpustakaan bisa mengambil peran terhadap isu-isu kebangsaan yang dihadapi juga bukan hanya persoalan intoleransi, diharapkan juga nantinya perpustakaan dapat berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah kebangsaan dan kemanusiaan,” pungkasnya.(hk)