Bahkan NCS tidak lagi melakukan pungutan di dalam bangunan TPI, karena pihak Pemprov Sulsel mengarahkan atau menyerahkannya ke Dinas Perikanan Kepulauan Selayar (salah tiket itu cuman sehari itupun sudah kami stop total dengan jumlah tiket 81 lembar saja dengan nilai Rp 2.000/karcis).
Itu hanya miskomunikasi di percetakan. Tidak semua kuponnya salah, ada juga yang benar tercantum Perda Provinsi Sulsel No. 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur pendapatan asli daerah (PAD).
Ketua HNSI kembali menekankan, Ini membuktikan pembuat berita tersebut tidak menekankan pengujian informasi dan memverifikasi data, karena itu patut diduga mendramatisasi informasi.
Saat ini kami fokus pemanfaatan pelataran dan jasa retribusi lainnya. Tiap karcis itu terhitung cermat dan ketat, uangnya di transfer langsung ke rekening RKUD Provinsi Sulawesi Selatan via Bank Sulselbar.
Kita semua ini belajar soal legalitas, otoritas dan kewenangan dan banyak ruang kita berbeda sesuai banyak sedikitnya referensi yang kita punya.
Yang tidak boleh itu kalau tanpa hak atau tanpa pendelegasian apalagi pemalakan dan pungli itu yang tidak boleh.
Kami sadar banyak pihak yang gerah dan mencari celah terhadap tugas dan tanggungjawab yang kami lakukan saat ini, mengingat pribadi saya yang dikenal kritis terhadap hal-hal yang berbau penyelewengan.
PAD yang dipungut Pemprov di kabupaten justru bagi hasilnya 70% dikembalikan ke pemkab dan jika mekanisme ini terus berlangsung maka masyarakat nelayan khususnya pemanfaat PPI dan pelabuhan perikanan punya alibi menuntut dan memaksa Pemprov untuk menganggarkan renovasi fasilitas pelabuhan PPI yang ada di Bonehalang.
Pejabat perikanan seharusnya melihat ini sejak dulu dan melakukan upaya-upaya strategis, bukan sebaliknya kayak takut kehilangan kewenangan, takut kehilangan pendapatan yang memang sejauh ini tidak pernah terkoordinasi baik dengan Pemprov.
Karena pikiran strategis harus bebas dari rasa aku saja yang boleh dan yang lain tidak boleh. Karena negara ini milik bersama untuk dikelola dengan bijak dan pikiran yang strategis bukan dengan otak kotor, ungkapnya. (#”#)
