Arogansi Amerika dan Kenaifan Dunia Internasional

oleh -

Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*

Dunia kembali heboh. Kehebohan yang tidak lagi karena kemenangan Zohran Mamdani menjadi Walikota Muslim pertama Kota New York. Tidak juga karena Epstein file (skandal seks dengan wanita di bawah umur) yang melibatkan banyak wajah-wajah populer, termasuk Presiden Trump dan mantan Presiden Clinton. Tapi kehebohan itu disebabkan oleh serangan militer Amerika ke negara berdaulat penuh, anggota PBB, Republik Venezuela. Bahkan menangkap atau penyebutan lain menyebutnya penculikan presiden dan Ibu negara yang kaya minyak itu.

Peristiwa penyerangan dan penangkapan presiden negara Venezuela ini jelas pelanggaran hukum internasional, bahkan hukum federal Amerika sendiri, serta pelecehan terhadap etika dan norma hubungan internasional. Sebuah tindakan dari negara yang kerap mengaku bahkan menggurui negara lain tentang demokrasi, keadilan dan kebebasan.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Resmikan Mobil Listrik Rakitan Indonesia, PLN Siap Mendukung Infrastruktur dan Pasokan Listrik

Tindakan Amerika ini bukan baru. Negara yang dijuluki negara adi daya ini memiliki sejarah panjang melakukan tindakan serupa dan seringkali dibungkus dengan dalih kebebasan, demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Kita masih ingat prilaku Amerika di negara-negara Amerika Selatan dan Latin seperti Nicaragua, Honduras, dan lain-lain. Kita tentunya semua tahu dan masih merasakan dampaknya prilaku Amerika di Timur Tengah, Irak, Libya, Yaman, Sudan, Afghanistan, dan lain-lain.

Baca Juga:  Asops Kasdam XVII/Kasuari Membuka Rakernisops Tahun 2020

Sebagaimana di masa-masa lalu, terdapat perbedaan sikap antara pemerintah dan masyarakat Amerika dalam menyikapi tindakan hukum rimba (law of the jungle) Amerika ini. Masyarakat sipil pada umumnya menyuarakan resistensi dan oposisi mereka terhadap tindakan semena-mena ini. Dari tokoh-tokoh agama, masyarakat sipil, hingga ke aktifis anti perang turun ke jalan-jalan menuntut pemberhentian prilaku yang memalukan negara yang kerap merasa paling beradab ini. Bahkan sebagian pejabat dan politisi dengan terbuka menyatakan oposisi (menentang) tindakan Amerika yang arogan ini. Salah satunya adalah Zohran Mamdani, Walikota New York yang baru 4 hari menjabat.


Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses