Cerita Rumah Warga Hingga Bisa lolos Verifikasi Rehab TMMD 128 Selayar

oleh -

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Kehidupan Panawang dan istrinya mencerminkan kondisi rentan yang membutuhkan perhatian. Tanpa pekerjaan tetap, Panawang hanya mengandalkan tenaga yang kian menurun untuk menggarap kebun kecil. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, ia dikabarkan kerap terjatuh saat beraktivitas.

“Kadang beliau jatuh di jalan tanpa sadar. Baru tahu setelah bangun dari tanah. Tapi tetap memaksakan diri bekerja,” tutur Fajrin, dengan nada prihatin.

Di sisi lain, sang istri, Nurhaedah, juga berjuang menambah penghasilan keluarga. Selain mengurus rumah tangga, ia mengisi waktu dengan mengupas biji kenari, hasil hutan yang dibawa suaminya atau menerima upahan dari warga sekitar. Penghasilannya pun sangat terbatas, berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari.

Namun, bukan hanya keterbatasan ekonomi yang menjadi persoalan. Kondisi dapur rumah mereka juga membahayakan. Lantai papan yang rapuh kerap menjadi ancaman.

“Ibu Nurhaedah pernah beberapa kali jatuh dari dapur karena papan sudah lapuk. Jaraknya bisa sampai dua meter ke tanah,” ungkap Fajrin.

Kisah inilah yang kemudian menggerakkan keputusan Dansatgas untuk menjadikan rumah tersebut sebagai prioritas bantuan. Dukungan pun mengalir dari warga sekitar dan pemerintah lingkungan setempat.

Gotong royong menjadi kunci. Personel TNI bersama masyarakat bahu-membahu membongkar bagian rumah yang rusak, terutama pada serambi dan dapur, lalu menggantinya dengan material yang lebih kokoh dan aman.

Kini, perlahan namun pasti, rumah panggung yang dulu rapuh mulai berdiri lebih layak. Bukan sekadar bangunan yang diperbaiki, tetapi juga harapan hidup yang kembali ditegakkan di tengah keterbatasan, melalui kebersamaan.


Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses