Sumur Kerajaan Pertama Gowa Sanna Ratasana’na, Pemerintah Tutup Mata

oleh -9 views

Gowa, Mitrasulawesi.id– Situs Sejarah menjadi peninggalan para leluhur dapat memberi informasi dalam dunia pendidikan maupun falsafah hidup, itu di buktikan dengan jejak cerita dan diperkuat benda cagar budaya sebagai peninggalan sejarah.

Salah satu daerah yang memiliki nama besar di tingkat Nasional maupun Manca Negara, adalah Gowa, terletak di pinggir ibu kota Makassar, perbatasan dengan Takalar, Jeneponto, Bantaeng Maros, Sinjai, Bone, dan Bulukumba, yang memiliki daerah sangat subur dan sangat strategis.

Nama Besar Kerajaan Gowa sudah malang melintang hingga ke manca negara, beberapa nama tokoh Pejuang hingga penyebar agama Islam telah di akui negara tetangga.

Hal itu di buktikan dengan beberapa situs sejarah yang ada di Bukit Tamalate, sebagai kerajaan pertama di Gowa. Terletak di kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, ada beberapa tempat diketahui sudah memiliki umur berabad-abad, sehingga generasi muda wajib mengetahui dan bisa dapat banyak belajar dalam perjalanan Kerajaan Gowa.

Beberapa Situs diduga sudah berusia Ratusan tahun yang memiliki perjalanan yang sangat luar biasa, beberapa tempat di duga memiliki umur ribuan tahun diantaranya: Bungung Lompoa (sumur besar), Bungung Bissua (sumur dayang kerajaan), Bungun Barania (Sumur Berani), Mesjid Tua Al-Hilal Katangka, Makam Syekh Yusuf Al-Makassari, Makam Arung Palakka, Assung Laburu, 2 Gua di prediksi memiliki umur Ratusan tahun dan 9 benteng kerajaan Gowa di masa lampau.

Tetapi sayang, kebesaran nama Gowa berbanding terbalik dengan Pelestarian sejarah maupun kondisi situs sejarah yang terbengkalai, apalagi wilayah Karajaan Gowa pertama yang berada di Bukit Tamalate butuh perhatian khusus oleh pemerintah maupun beberapa stakeholder terkait.

Hal ini diungkapkan Pengurus Komunitas Pemerhati Sejarah (KPS) Bukit Tamalate, yang menilai pemerintah tidak fokus dalam pelestarian sejarah maupun budaya yang ada di Gowa, sehingga pudarnya sejarah buat generasi selanjutnya bisa terjadi.

“Sejak beberapa bulan terakhir, kami telah mengingatkan pemerintah maupun DPRD terkait Kondisi situs yang berada di Gowa, Khususnya di Katangka, apalagi masuki musim hujan, pasti menimbulkan genangan air sehingga menghilangkan nilai budaya dan estetika di situs tersebut,” tutur Arif Wangsa sebagai Ketua KPS Bukit Tamalate, Rabu 27 Januari 2021.

Arif yang juga Aktivis mahasiswa, berharap pemerintah bisa turun langsung melihat kondisi situs yang ada di Katangka, yang sudah beberapa tahun mengalami kerusakan maupun Rantasa’ (Kotor) yang sangat parah, bahkan dinilai bisa menggagu kesehatan masyarakat setempat.

“Beberapa situs sejarah sangat mengkhawatirkan bahkan sudah tergenang air dan penuh lumpur, salah satunya Bingung Lompoa, yang saat ini masih di gunakan masyarakat setempat untuk kegunaan sehari hari, dan Masjid Tua Katangka yang sudah menjadi Icon di Sulawesi Selatan masih tergenang air,” tuturnya.

Hal ini pun membuat KPS Bukit Tamalate akan terus bergerak untuk mencoba mendapat perhatian khusus terkait situs situs tersebut, maupun dari berdialog, berdiskusi, tatap muka bersama Pemerintah, bahkan melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) ke DPRD, tetapi belum membuahkan hasil.

Ramli Rewa yang juga Ketua Komisi 4 DPRD Gowa menuturkan bahwa, Katangka bukan lagi sebuah situs sejarah melainkan sudah menjadi kawasan.

“Katangka ini lengkap sejarahnya, mulai dari Istana kerajaan, Batu Pallantikang (Tempat Pelantikan Raja), Mesjid Tuanya, tempat pertemuannya, sampai sumur kerajaan, jadi walaupun tidak di kaji semua orang tau bahwa tempat tersebut memang tempat bersejarah,” kata Ramli Rewa saat di jumpai di kantor DPRD.

Ramli Rewa juga menuturkan jika melihat kondisi situs ini, Pemerintah Daerah harus turun tangan dan melakukan perbaikan.

“Jika Kabupaten tidak bisa menganggarkan untuk perbaikan kami punya link sampai ke Provinsi, jika perlu kami tembuskan hingga ke Pusat, untuk mencarikan anggaran,” cetus saat melakukan RDP bersama Komunitas Pemerhati Sejarah Bukit Tamalate.

Sementara itu Bupati Gowa yang juga pucuk pimpinan tertinggi di Pemerintah, sudah 3 kali di layangkan surat Audiensi untuk membahas situs sejarah yang ada di Katangka tetapi belum mau bertemu dengan Masyarakat, bahkan hanya selalu di alihkan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gowa.

Bungung Lompoa sudah terregistrasi di Balai Pelestarian Cagar Budaya dengan nomor:OB.P02017033001714 dan sudah menempatkan Polisi Khusus untuk melestarikan dan menjaga kondisi situs sejarah di Katangka.(rls/tim)