Ambarita terperangah. Ia kenal nama itu. Ageni yang berarti api, teman dekatnya, sewaktu ia masih menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dulu. Ageni memang senang bermain-main dengan api. Gratifikasi, korupsi, tipu muslihat, bahkan tak segan ia membunuh. Ia ingat, sewaktu mencalon sebagai pejabat, Ageni adalah orang yang paling berjasa atas jabatannya itu. Bisa dibilang, saham Ageni atas kursi dewan yang ia peroleh, 50 persen adalah bantuan Ageni. Dari biaya sosialisasi sampai kampanye, dari dana konsolidasi sampai suap ke kepala partai untuk mendapat rekomendasi, Agenilah yang melakukan segalanya.
“Kapan dia mati?” tanya Ambarita.
“Baru sejam yang lalu,” jawab Sumitro.
“Lalu, di mana dia sekarang?”
“Di sungai api, sedang diadili oleh para malaikat. Aku lihat tubuh telanjangnya, di tikam dengan besi-besi panas, mulutnya dimasukkan lahar-lahar gunung berapi, sampai-sampai seluruh tubuhnya lebur menjadi abu. Tapi, meski begitu, aku dengar, Ageni meneriakkan uang dan uang. Dari teriakannya itu, aku bisa menduga, kalau semasa hidupnya, Ageni adalah orang yang menuhankan uang. Menghambakan diri pada nafsu duniawainya semata,” terang Sumitro.
“Nasib baik, aku hanya seorang pencuri, yang jika dapat dikatakan demikian, aku sangat terpaksa melakukannya. Demi kelangsungan hidup. Jadi aku hanya akan merasakan sakitnya kehilangan tangan berjuta-juta kali. Aku dengar dari para malaikat, seorang koruptor akan kekal di neraka. Sebab, para koruptor ini termasuk manusia-manusia paling kafir,” lanjut Sumitro.
Ambarita gamang mendengar ucapan terakhir Sumitro. Adakah ia akan kekal sampai berdaki-daki di neraka, seperti kawannya, si Ageni, itu?
Di bawah pohon mangga milik Pak Kades yang kami renggut paksa buahnya, aku bercerita soal nasib Ambarita nanti di Neraka, juga nasib para pendosa lainnya. Aku semangat bercerita, sampai berbusa-busa mulutku dibikinnya.
Tapi aku heran, seorang temanku, Salim, tiba-tiba menangis.
“Kenapa kau menangis, Salim?” tanyaku.
“Bagimana nasib kita ini di Neraka?” ucap Salim, terseguk-seguk.
“Apa maksudmu?” aku masih belum mengerti ucapan Salim.
“Bukankah apa yang kita lakukan hari ini, sama seperti Sumitro yang kau ceritakan itu? kita mencuri buah mangga Pak Kades. Aku tak mau kalau tanganku dipotong pakai gergaji panas,” terang Salim sambil tangisnya menjadi-jadi.
Sedih benar kawanku itu setelah tahu, bagaimana nasib seorang pencuri nanti di neraka.
“Tenang, Kawan, itu bukan masalah. Kita masih kecil, masih bebas dari dosa, jadi malaikat tidak akan mencatat pencurian yang kita lakukan hari ini. Belum. Kita belum cukup dewasa untuk menanggung beratnya dosa,” ucapku kepada Salim berusaha menenangkannya.
Mendengar ucapanku, barulah Salim berhenti menangis.
Selepas dari pohon Mangga Pak Kades, aku mengajak salim dan teman-temanku yang lainnya ke rumah Ambarita, bukan apa-apa, aku hanya ingin melihat kondisinya, biar nanti aku punya cerita baru yang lebih mengesankan kepada teman-temanku, soal Ambarita.
Tapi sayangnya, di depan pintu kamar, sudah ada bapakku, kata bapakku anak-anak seperti kami tak diizinkan mendekat. Bukan karena bau amis, yang menguar dari tubuh pesakitan Ambarita, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak bisa diungkapkan Bapakku secara terang-terangan.
“Kenapa Bapakmu tidak mengizinkan kita masuk? Padahal aku penasaran, ingin melihat kondisi Ambarita. Adakah ia meronta-ronta seperti yang kau ceritakan itu?” tanya, Kardun.
“Sebenarnya, alasan kenapa kita yang masih anak-anak ini dilarang melihat atau mendekati Ambarita, itu karena virus yang menyerang Ambarita dapat menular. Dan anak-anak seumuran kita ini, akan lebih mudah ditularinya,” aku menerangkan dengan bangga. Layaknya aku ini menjadi seorang pengarang yang adiluhung.
“Penyakit apa kiranya itu?” tanya, Maman, penasaran.
“Hmm, nama penyakit itu, psikologi,” jawabku.
“Kalian tahu, menurut buku yang pernah aku baca, penyakit psikologis ini menyerang karakter manusia. Semacam arwah jahat yang bisa merasuki pikiran. Itu sebabnya kita yang masih berumur belasan tahun, tak diizinkan masuk. Orangtua kita, tidak mau virus psikologi itu merasuki pikiran anak-anaknya. Mau kalian, kalau virus itu membuat kalian menjadi seorang koruptor seperti Ambarita, kelak?” tanyaku.
“Tidak mau,” teman-temanku menyahut hampir bersamaan.
Kami sama-sama bergidik, mengingat bagaimana nasib seorang koruptor di neraka nanti. Karena tak diizinkan melihat, aku dan teman-teman memutuskan untuk mencari kelapa di kebun milik Pak Kades. Di sana, kami bisa mengumpulkan kelapa-kelapa kering yang jatuh karena kalah oleh angin, kemudian menukarkannya dengan makanan-makanan ringan di kios Tante Muti.
Sambil menunggu penuh harap agar angin tenggara berputar lebih kuat hari ini, di gubuk kayu beratap daun-daun kelapa, tempat kami menunggu. Salim dan lainnya, memaksaku untuk menceritakan tentang Ambarita. Sepertinya, mereka sangat tertarik dengan ceritaku yang hebat itu. Di sekolah, Pak Ismed, guru Bahasa Indonesia kami, memang selalu memujiku. Bakatku di bidang mengarang dan bercerita, atau bahasa kerennya storyteller, adalah satu anugerah yang besar. Bahkan, menurut Pak Ismed, dengan bakatku itu, apabila aku bijak menggunakan dan terus mengasahnya, katanya, aku bisa menjadi orang besar, kelak. Bukan main, rasa bangga itu meledak-ledak di dadaku.
Aku berdehem sebentar, menelan ludah banyak-banyak, bersiap membuat teman-temanku terkesan dengan cerita panjangku tentang Ambarita.
Dulu, Ambarita adalah satu dan satu-satunya pemuda cerdas yang ada di kampung ini. Dia pandai, cerdik di segala bidang. Meski keadaannya sama seperti anak-anak kampung lainnya, Ambarita hidup dalam kecukupan. Nasibnya selalu bergantung pada hasil panen. Tapi, satu yang mengesankan dari seorang Ambarita muda ini, meski berkali-kali orangtuanya mengingatkan agar ia berhenti bersekolah karena tidak sanggup membiayai kebutuhan sekolah yang semakin tinggi jenjangnya semakin mencekik, tapi, Ambarita tetap ngotot untuk melanjutkan studinya.
Didasari keinginannya yang kuat, untuk menjadi sarjana muda, untuk mengubah nasib keluarganya, Ambarita memutuskan merantau ke Ibukota. Jakarta yang hebat dan mewah itu, menjadi pilihannya.
Di Jakarta, Ambarita mengerjakan apa saja, agar bisa melanjutkan studinya. Jadi kuli bangunan, ia pernah. Jadi pengamen, ia bisa. Jadi penjaga toko, ia suka. Jadi penjual koran, ia senang. Bahkan jadi pencopet, pun tak masalah. Semua pekerjaan itu ia lakukan demi ambisinya untuk menjadi seorang sarjana.
Alhasil, dari kerja kerasnya, yang tak tanggung-tanggung itu, Ambarita kembali dengan ijazah yang membanggakan. Gelar sarjana pertama dan termuda di kampung ini, pun disandangnya.
Tahun pertama setelah gelar itu ia pikul, oleh Pak Kades yang menjabat saat itu, Ambarita langsung diberikan jabatan sebagai Pelaksana Tekhnis Pembangunan dan Kegiatan Desa. Ambarita, menggunakan jabatan itu sebaik-baiknya. Dengan keterampilan dan tingginya pemahaman Ambarita soal pemerintahan. Ia bisa melihat peluang dari jabatan yang diembannya. Mencungkil anggaran sedikit-sedikit tak akan ketahuan di tangan Ambarita yang terampil. Kemudian, di tahun selanjutnya, Ambarita ikut mencalonkan diri sebagai Badan Permusyawaratan Desa (BPD), diapun terpilih menjadi ketua. Tapi, Ambarita merasa rugi, ternyata meski menjabat sebagai ketua BPD, jabatan itu tidak mengelola anggaran yang besar, tidak seperti jabatannya yang lalu.
Kemudian, ditenggelamkan oleh ambisi, jiwa haus jabatan dan uang tumbuh di diri Ambarita. Saat pemilihan Kepala Desa tiba, Ambarita menggunakan ilmu politiknya sebaik-baiknya. Katanya, demi sebuah kemenangan, apapun itu selalu menjadi benar. Untuk itulah, Ambarita membangun kontrak mutual dengan salah satu partai politik. Bunyi kesepakatannya kira-kira begini;
Apabila partai politik itu membantunya memenangkan pemilihan kepala desa, suara masyarakat desanya, kelak akan dialirkan sepenuhnya ke partai politik itu. Tak tanggung-tanggung Ambarita, membangun kontrak dengan partai besar itu, partai berlambang hewan empat kaki, bermata merah.
Semua kerja keras Ambarita pun berhasil. Setelah memberikan bantuan berupa sekilo beras dan sekilo gula pasir, kepada semua warga desa, dengan embel-embel kemanusiaan dan kepedulian. Ambarita terangkat menjadi kepala desa. Dengan jabatan sebesar itu, Ambarita benar-benar berjaya. Ambarita seakan berubah menjadi seorang dokter bedah, tak tanggung-tanggung dia melakukan amputasi atas anggaran pembangunan desa di sana-sini. Dengan tenang, Ambarita yang licin dan cerdik tak pernah ketahuan. Aih, hebatnya menjadi seorang Ambarita. Bisa mencuri anggaran besar tanpa harus takut ketahuan dan dipukuli warga sampai berdarah-darah atau bahkan mati seperti pencuri sendal jepit dalam berita.
Alhasil, dalam tempo dua tahun masa jabatannya, Ambarita sudah punya rumah beton berukuran luas. Dua buah sepeda motor, yang satu motor dinas, yang satu pribadi. Plus, satu istri cantik dan muda belia, bernama Marleni. Lima tahun menjabat sebagai Pak Kades, Ambarita sudah bisa membangun rumah kos-kosan di kota. Punya tanah berkapling-kapling di sana.
Belum puas dengan jabatan kepala desa. Ambarita melebarkan sayap, ingin terbang ke kasta yang lebih mewah dan bijaksana. Melihat prestasi Ambarita di dunia politik dan pemerintahan, ia tak kesulitan untuk menemukan perahu politik. Di sinilah ia berkenalan dengan Ageni yang saat itu menjabat sebagai kepala kejaksaan daerah. Dari Ageni, Ambarita belajar banyak hal. Langkah yang jauh lebih besar, strategi yang lebih licik, dan cara mencuri yang lebih licin dan halus.
Saat mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Ambarita melakukan sogok sana-sini. Dari mulai kepala parpol, sampai kepala daerah. Money Politik, yang dianggap sebagai kecurangan dan haram, menjadi halal bagi ambisi Ambarita. Tak tanggung-tanggung, saat waktu pemilihan tiba. Mereka menyebutnya serangan fajar. Berkarung-karung beras naik tanpa diminta ke pintu-pintu rumah warga, di dalamnya ada kartu nama Ambarita, S.IP, dan tiga lembar uang ratusan.
Saat pencoblosan tiba, warga yang tak tahu menahu betapa berdosanya mereka yang terlibat politik praktis, tak tega mencoblos calon lain, setelah Ambarita menghujani mereka dengan bantuan berkarung-karung beras dan berlembar-lembar kain sarung, ditambah lagi tiga lembar uang ratusan. Sungguh mereka tak tega setelah semua kebaikan itu.
