Terlepas dari perdebatan tentang keturunan (nasab) saya sangat yakin bahwa kalaupun ada penyebutan khusus tentang keistimewaan yang diberikan kepada keturunan Rasulullah SAW, faktornya bukan pada faktor darah dagingnya. Tapi lebih kepada kedekatan hati dalam iman yang diperkuat dengan faktor keturunan Rasul. Tegasnya kemuliaan keturunan Rasulullah tetap ditentukan oleh Iman dan akhlak yang mengikuti Iman dan akhlak Rasulullah. Bukan karena faktor “darah dan daging” (blood and flesh).
Kemuliaan Rasulullah SAW dan keunggulan beliau sebagai insan kamil (manusia sempurna) terbukti dengan pujian tinggi yang datang langsung dari Allah SWT: “wa innaka la’alaa khuluqin adziim” (sungguh engkau memilki akhlak yang sangat agung).
Di kalangan masyarakat Muslim, khususnya Muslim Asia Selatan, ada puji-pujian yang masyhur yang umumnya dilantungkan di musim-musim mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Di antara syair itu berbunyi: “محمد بشر وليس كالبشر ولكنه يقوتة والناس كالحجر” (Muhammad adalah manusia. Tapi tidak sama manusia lain. Tapi sesungguhnya dia adalah mutiara. Sementara manusia lainnya adalah bebatuan”.
Hal ini menunjukkan bahwa keistimewaan Rasulullah itu ada pada nilai. Bukan pada fisik (darah-daging). Dan sebagaimana kita ketahui nilai itu ada pada iman dan akhlak (ketakwaan). Sebagaimana disimpulkan dalam Al-Quran: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa”.
Teuladan bagi semua
Kenyataan bahwa beliau adalah manusia dengan kesempurnaannya menjadikan beliau ditetapkan sebagai Rasul dan nabi. Bahkan lebih jauh dijadikan sebagai tauladan bagi umat ini. “Sungguh Pada Rasulullah itu ada contoh tauladan bagi kalian semua”.
Sebagai manusia yang kesempurnaannya mencakup segalanya (segala sisi kehidupan manusia) maka sudah pasti ketauladanan beliau juga pastinya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Walaupun ketauladanan itu jika berhubungan dengan realita kehidupan yang secara konstan mengalami perubahan tidak harus dipahami secara hitam putih (black and white). Namun pada aspek manapun pastinya ketauladanan itu relevan.
Secara akidah tak disangkal baginda Rasul adalah tauladan terbaik dalam keimanan. Mengingatkan kita kepada kisah-kisah agung dalam sejarah perjuangan di masa hidupnya. Bagaimana ketika beliau meninggalkan rumahnya di malam perjalanan Hijrah. Bagaimana beliau ketika di dalam gua Tsur dan para algojo itu siap memenggal lehernya. Bagaimana beliau ketika diikuti oleh Suraqah. Bahkan bagaimana beliau ketika diintimidasi oleh kaum munafik jika pembesar Mekah telah mempersiapkan kekuatan dahsyat untuk menghancurkan umatnya.
Semua itu direspon dengan ketegaran iman dan ikhtiar maksimal: ما زادهم الا ايمانا وتسليما ( beliau justeru semakin bertambah dalam keimanan dan keislaman).
Dalam hal ketaatan dan ubudiyah barangkali kesaksian isteri beliau Aisyah menjadi ingatan yang dahsyat. Bagaimana beliau karena sujud yang panjang dan kekhusyukan beliau dalam ibadah “aatsaar” (bekas-bekas sujud) di dahi dan lutut beliau sangat jelas. Sampai-sampai Aisyah bertanya: “Kenapa engkau lakukan semua itu ya Rasulullah?”.
Mungkin dalam benak Aisyah beliau adalah Rasul, habib Allah, ma’shum dan dijamin masuk syurga. Jawaban beliau sangat sederhana menunjukkan ketawadhuan yang tinggi: “tidakkah saya seharusnya menjadi hamba yang bersyukur?”.
Dalam hal mu’amalat dan akhlak kita diingatkan begitu banyak contoh-contoh nyata dari kehidupan baginda Rasul. Bagaimana seorang wanita tua yang mengumpulkan kayu bakar di Mekah. Karena berat untuk diangkat oleh ha beliau meminta kepada orang-orang di sekitar Ka’bah untuk menolongnya. Tak seorang yang mau menolongnya kecuali seorang yang masih relatif muda. Dialah yang menggotong kayu bakar itu ke rumah sang wanita tua itu.
Tapi dalam perjalanan ke rumahnya sang wanita itu memburuk-burukkan seseorang bernama Muhammad. Yang menurutnya jahat, memecah belah, maka dinasehatinya anak muda itu untuk menjauhinya. Ternyata sang wanita tua itu tidak sadar bahwa anak muda yang membantunya itu adalah Muhammad. Sang anak muda itu hanya diam, sabar hingga sampai ke rumah sang wanita tua. Sang wanita pun bertanya siapa gerangan nama anak muda itu. Beliau dengan tenang menjawab bahwa beliulah Muhammad. Beliau memaafkan bahkan berusaha menenangkan sang wanita tua yang khawatir dan merasa malu. Sang wanita tua pun menerima beliau sebagai Rasulullah.
Kisah peminta-minta buta di Madinah dan seabrek kisah lainnya menggambarkan ketinggian dan keindahan akhlak Rasulullah SAW. Bahwa beliau memang orang yang memiliki keagungan prilaku yang tiada banding. Dipuji secara khusus oleh Pencipta langit dan bumi.
Sangat wajar jika beliau ditetapkan sebagai “tauladan” bagi kita semua. Tapi maukah kita menauladani beliau? Semoga!
Bersambung…!
Jamaica City, 13 September 2024
- Presiden Nusantara Foundation
Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
