Opini, mitrasulawesi.id – Sepiring nasi putih sering dianggap sebagai simbol identitas pangan utama warga Indonesia. Meskipun variasi pangan lokal seperti singkong atau sagu tetap tersedia, beras tetap menjadi sumber karbohidrat dominan.
Menurut data Badan Pangan Nasional (2023), konsumsi beras per kapita Indonesia mencapai sekitar 81,23 kilogram per tahun. Fenomena ini mengakar kuat pasca-era “berasisasi” pada dekade 1970–1980-an melalui kebijakan Revolusi Hijau yang masif.
Secara sosiologis, transformasi ini menciptakan hegemoni budaya—sebuah kondisi di mana nilai-nilai kelompok dominan (dalam hal ini, kebijakan pemerintah pusat) diterima sebagai norma umum yang tidak terbantahkan.
Beras putih dikonstruksikan sebagai standar pangan “beradab” dan indikator kemakmuran, yang secara perlahan meminggirkan keragaman pangan lokal Nusantara ke kelas sosial yang dianggap lebih rendah.
Namun, dominasi ini kini berbenturan dengan tantangan kesehatan global. Pada tahun 2024, International Diabetes Federation (IDF) melaporkan bahwa penderita diabetes di seluruh dunia telah mencapai 589 juta orang.
Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
