Ancaman Itu Semakin Nyata!

oleh -

Shamsi Ali Al-Kajangi

Sesungguhnya kita hampir kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kebengisan penjajah Zionis Israel kepada bangsa Palestina, tidak saja di Gaza yang mengalami pembasmian dan penghancuran totalitas, genosida dan eliminasi etnis (ethnic cleansing). Tapi juga mereka yang di daerah pendudukan Israel lainnya, termasuk Ramallah dan Jenin, mengalami perlakuan yang tidak manusiawi dari penjajah zionis yang zholim.

Mata dan telinga tidak bisa dibutakan dengan realita yang ada. Apalagi jika akal sehat dan hati nurani masih hidup. Bahwa apa yang dilakukan oleh penjajah zionis di Palestina telah melampaui semua batas-batas yang dikenal oleh kemanusiaan kita. Apalagi jika hal itu kita bawa kepada pertimbangan agama, moral dan etika. Rasanya tak ada agama, ukuran moral dan etika apapun yang bisa memahami apalagi menerima kekejaman zionis itu.

Baca Juga:  Dinilai Melanggar, Camat Tinggimoncong Balik Bertanya ke Bawaslu

Hampir-hampir saja keseluruhan masyarakat dunia ikut merasakan kekejaman itu. Mereka pun bangkit menyuarakan rasa simpati bahkan empati mereka kepada bangsa Palestina. Mereka menyuarakan dukungan kepada bangsa Palestina, bahkan bangkit dengan gerakan resistensi yang tegas kepada tindakan yang sangat tidak manusiawi dari penjajah zionis. Para aktifis dan tokoh pergerakan kemanusiaan, tokoh-tokoh agama, pelajar/mahasiswa dan akademisi, bahkan banyak dari kalangan aktifis Yahudi (salah satunya JVP) yang ikut menyuarakan itu.

Suara-suara itu semakin lantang dan mulai terdengar jelas oleh sebagian politisi yang masih memiliki mata dan telinga yang hidup. Politisi yang memiliki akal sehat dan hati nurani. Politisi yang tersadarkan bahwa jabatan harusnya tidak membutakan “rasa kemanusiaan” (human sense) yang bisa dijadikan sebagai pertimbangan minimum dalam memilah (distinct) mana yang baik dan etis (ethical) dan mana yang buruk dan jahat (evil).

Baca Juga:  Iring-iringan Pengantar Jenazah Lukas Enembe Ricuh

Di Amerika Serikat khususnya kebutaan (blindness) pemerintahannya (kecuali sebagian kecil) justeru semakin membuka mata masyarakat dan kaum muda dan intelektualnya. Di berbagai universitas terbaik dunia seperti Harvard, MIT, Yale, Columbia dan banyak lagi mereka bangkit melakukan perlawanan kepada kejahatan, kekejaman dan genosida yang dilakukan oleh penjajah zionis Israel di Palestina.

Di Kongress Amerika saat ini juga mulai mengalami perubahan yang tidak disangka-sangka. Saya masih ingat dua dekade silam, menyebut Israel sebagai penjajah (colonial) dan penjahat (criminal) saja merupakan hal yang tabu dan dianggap kejahatan (crime). Kini di Kongress Amerika suara-suara resistensi itu semakin jelas terdengar. Dengan hadirnya politisi-politisi muda dan idealis seperti Ilhan Omar, Rashida Thalib, Jamal Bouman (Bronx, NY) dan lain-lain keritikan dan perlawanan kepada kesemena-menaan penjajah zionis Israel semakin terdengar jelas.

Baca Juga:  Masa Orientasi Mahasiswa Poltekkes di Korem 142/Tatag Berakhir

Pada tataran diplomasi tak dapat disangkal lagi bahwa Israel dan pelindung-pelindungnya (auliyaa-nya) mengalami babak belur yang memalukan. Di ruang-ruang sidang PBB, baik di New York hingga ke Geneva, kekalahan demi kekalahan itu nyata. Di arena pertarungan Mahkamah Internasional Israel juga babak belur dan memalukan. Terakhir dikeluarkannyan “arrest warrant” untuk Natanyahu merupakan tamparan yang nyata. Disejajarkannya Natanyahu dan pemimpin Hamas yang mereka label sebagai teroris sebenarnya sekaligus pernyataan bahwa dunia telah menetapkan Natanyahu sebagai teroris.


Eksplorasi konten lain dari mitra sulawesi

Mulai berlangganan untuk menerima artikel terbaru di email Anda.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.