Lapanrita Dg Rau, Guru Mengaji yang Pejuang Masih Dikenang Muridnya

oleh -

Gowa,mitrasulawesi.id– Nama Lapanrita Dg Rau, terus menjadi jejak di Dusun Borongkanang Desa Bontolangkasa Selatan, kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa, yang menjadi kisah di mata masyarakat.

Hal ini disampaikan Hamzah Dg Tompo (71), yang juga warga asli Bontolangkasa, mengenang masa lalu seorang guru mengaji yang penuh fenomenal.

Hal ini disampaikan Hamzah Dg Tompo, saat dikonfirmasi media Mitra Sulawesi di kediamannya. Menurut Hamzah, nama Lapanrita Dg. Rau cukup kental dalam penyebaran agama Islam.

“Saya ini adalah salah satu santri Lapanrita Dg Rau, yang melihat langsung kami di ajar mengaji,” salutnya sambil mengenang masa lalu.

Hamzah pun menuturkan bahwa tahun 1960 melihat sosok guru yang sangat baik, bahwa dia sering dibelikan baju celana hingga buku sekolah untuk melanjutkan pendidikan.

” Lapanrita ini seorang pedagang, saya selalu menemani beliau menjual barang di pasar dengan cara berjalan kaki, bahkan pada saat menjelang lebaran saya dibelikan perlengkapan sekolah hingga baju baru menjelang lebaran,” katanya kepada wartawan, Sabtu (8/8).

Jejak ini menjadi sejarah silam di tengah masyarakat, apalagi sosok Lapanrita berasal dari Sengkang hijrah ke tanah Bontolangkasa.

Sejak dulu nama Lapanrita yang juga tokoh Agama, Pejuang Veteran, hingga sosok yang sangat bersahaja masih tersimpan rapat di hati para santri hingga masyarakat.

“Pertama kali Lapanrita Dg Rau, tinggal di samping rumah saya dan membuat sebuah tempat untuk berjualan dan tinggal bersama Istrinya,” cetus H. Zainal Dg Sila (71) yang juga warga asli Desa Bontolangkasa.

Dg Sila juga salah satu santri Lapanrita Dg Rau, menilai sosok gurunya ini sangat bersahaja bahkan mengajarkan para muridnya agar taat kepada orang tua.

” Kami sebelum mengaji harus mengangkat air dan menyapu dan membersihkan halaman tempat kami mengaji, dibawah kolong rumah Lapanrita sehingga itu melekat dan menjadi kebiasaan,” tuturnya saat memperaktekan saat mengambil air.

Cara mengaji yang diajarkan Lapanrita pun tidak seperti saat ini kerena, konsep mengaji saat ini penuh hapalan.

” Kami mengaji cara malagu sehingga mudah di pahami dan diingat sampai saat ini, belum lagi kami juga mengingat apa yang diajarkan hingga saat ini,” cetusnya.

Santri yang diajar Lapanrita mencapai 50 orang, dan murid yang diajar biasa mencapai dua tahun untuk bisa lulus mengaji, hingga diwajibkan membawa kelapa dan gula merah sebagai wujud kesyukuran.(Ar/tim)