Lebih lanjut, Imam Shamsi menjelaskan bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melebihi Arab Saudi, sehingga menjadi target strategis bagi kekuatan ekonomi dunia.
Selain itu, kedekatan Venezuela dengan Iran dan dukungannya terhadap perjuangan Palestina menjadikannya sasaran politik yang tidak disukai oleh blok zionis global.
“Venezuela berdiri di sisi yang berseberangan dengan kepentingan Israel dan jaringan zionisme internasional. Maka intervensi Amerika bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari agenda besar untuk menundukkan negara-negara yang berani berbeda sikap,” tegasnya.
Menariknya, Shamsi Ali juga menyoroti resistensi di dalam negeri Amerika sendiri terhadap kebijakan luar negeri yang agresif ini. Ia menyebut tokoh seperti Zohran Mamdani, Walikota New York, sebagai representasi generasi muda yang berani menolak arogansi kebijakan Washington.
“Suara-suara seperti Zohran Mamdani menunjukkan bahwa tidak semua rakyat Amerika setuju dengan kebijakan luar negeri negaranya. Ada kesadaran baru tentang pentingnya keadilan global,” ungkap Imam Shamsi Ali.
Di akhir wawancara, Shamsi Ali mengingatkan dunia internasional, termasuk Indonesia, agar tidak diam terhadap pelanggaran hukum internasional tersebut.
“Indonesia punya posisi moral yang kuat. Kita harus bersuara, karena diam di hadapan kezaliman berarti ikut melegitimasinya,” tutupnya.
Serangan Amerika ke Venezuela, menurut banyak pengamat, tidak hanya mengancam stabilitas politik kawasan Amerika Latin, tetapi juga dapat menjadi preseden berbahaya bagi hukum internasional dan tatanan dunia yang berkeadilan.
Tim Reporter: FRG (mitrasulawesi.id)
Editor: Redaksi mitrasulawesi.id
Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
