Luhut: Corona Mereda Juni, 500 TKA Cina Bisa Masuk di Sulawesi

oleh -1.591 views

Jakarta,Mitrasulawesi.id– Kordinator Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengingatkan pandemi COVID-19, menghambat proyek hilirisasi nikel menjadi lithium. Setelah pandemi corona mereda, proyek akan kembali jalan pada Juli mendatang dengan targetnya 2023 sudah beroperasi.

Luhut Binsar Panjaitan, yang juga Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, akhirnya memutuskan untuk menunda kedatangan 500 TKA China ke Sultra itu dengan alasan keamanan. Mereka baru boleh masuk Indonesia usai pandemi COVID-19 reda.

Luhut pun mengatakan, TKA China itu akan masuk Indonesia sekitar Juni atau Juli mendatang. Kata dia, saat ini perusahaan China yang mengerjakan proyek tersebut sedang menyelesaikan perizinannya.

“Ya nanti. Orang itu (China) berencana minta, tapi itu nanti baru Juni atau Juli baru kejadian (masuk ke Indonesia), tapi sekarang mereka sudah minta izin. perizinan itu enggak cukup sehari,” kata Luhut dalam bincang di RRI secara online, Sabtu (10/5/2020).

Luhut menegaskan, industri lithium yang menjadi bahan baku baterai mobil listrik ini membutuhkan orang-orang dari China, karena teknologi yang diterapkan di sana berasal dari Negeri Tirai Bambu.

Dia berjanji orang-orang Indonesia bakal bekerja disana setelah adanya transfer teknologi dari China, dan bakal memberikan pelatihan pada pekerja Indonesia.

“Nanti yang kerja siapa? Ya sebagian kita, 90-92 persen orang Indonesia. Masih banyak daerah lain yang belum, jadi karena pendidikannya SMA kurang bagus. Sejak 3 tahun terakhir ini mulai diperbaiki mereka supaya masuk ke politeknik itu. Sekarang yang in take (masuk di Politeknik) 600 orang per tahun. Jadi jangan sebarkan hoaks,” ujarnya.

Dengan begitu, Indonesia bisa masuk pasar penyedia bahan baku baterai mobil listrik, sebab mulai 2025 diperkirakan orang-orang di Eropa tak lagi menggunakan mobil berbahan bakar bensin. (kumparan/tim).

Baca Juga:  Dalam Situasi Pandemi Covid-19, Dandim Solo Bersama Forkopimda Distribusi Logistik