Opini : Mahasiswa yang Terjebak

oleh -
oleh
Penulis, M. Alfian Fachmy (Mahasiswa Hukum Tatanegara Islam STAI DDI Sidrap / Founder KONKLUSI)

Opini, MitraSulawesi.id– Menjadi mahasiswa merupakan impian bagi sebagian besar generasi muda Indonesia. Banyak orang tua yang rela bekerja banting tulang hanya untuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi ternama baik negeri maupun swasta. Saya masih ingat begitu banyaknya teman-teman mahasiswa baru mengenakan atribut ospek demi sebuah gelar sarjana. Mereka berkumpul bersama, menyelami lautan ilmu pengetahuan, hanya untuk gelar akadameik itu.

Tidak sedikit pula diantara mahasiswa yang bergelut dalam organisasi baik internal maupun eksternal. Mahasiswa sangat kaya akan potensi, sehingga banyak solusi-solusi yang lahir dari pemikiran mahasiswa. Sangat sering kita lihat mahasiswa yang begitu handal dalam berorasi, menggalang massa, bahkan menganalisa problem sosial dengan kajian-kajian yang kritis. Potensi inilah yang tak jarang disalah gunakan oleh mahasiswa yang pragmatis. Tentu hal ini menjadi kabar gembira oleh mereka yang mempunyai kepentingan politis.

Baca Juga:  Dana Desa : Antara Kemandirian dan Ketergantungan

Dengan berkedok kolaborasi dengan mahasiswa tentu merupakan sebuah lahan basah bagi mereka yang tergiur akan politik praktis. Mahasiswa tentu butuh asupan dana untuk kelancaran kegiatan. Namun, tak harus melacur pada mereka yang hanya menjadikan mahasiswa sebagai tim kerja teknis. Hal ini biasanya sering terjadi pada organisasi yang dimana alumninya telah memperoleh jabatan strategis dalam pemerintahan.

Seharusnya sebagai alumni atau senior yang teladan, sepatutnya berkontribusi tanpa mengharap imbalan. Semisal saja senior tersebut merupakan anggota partai maka mereka senantiasa menjadikan mahasiswa atau juniornya sebagai alat untuk membantu kelancaran kepentingan politiknya. Mahasiswa yang pragmatis tentu tidak akan menyianyiakan kesempatan emas ini. Untuk mendapat suplay dana oleh senior mereka rela menjadi teknisi dalam kegiatan politis seniornya yang cenderung bertentangan pada independsi organisasi tersebut. Jadi bisa saya katakana ini bukanlah kolaborasi melainkan sebuah transaksi.

Baca Juga:  Siasat Meraup Keuntungan di Tengah Pandemi

Mahasiswa juga tidak sepenuhnya disalahkan pada fenomena itu karena mereka terjebak dalam pusaran kepentingan yang memang tidak dapat dihindarkan. Cita-cita mereka cukup sederhana, yakni ingin nebeng dalam kesuksesan senior. Namun mahasiswa yang idealis lebih cenderung melepas diri dan tak sedikit dari mereka di cap sebagai junior yang pembangkang. Senior yang punya kepentingan cenderung lebih menyukai junior yang komitmen daripada junior yang cerdas atau mempunyai wawasan yang lebih luas, kenapa? Karena junior yang memiliki komitmen lebih mudah untuk disetir.

Baca Juga:  Degradasi Kepekaan Sosial di Kalangan Mahasiswa

Satu-satunya cara untuk keluar dari jebakan kepentingan, baik itu kepentingan gerbong, koalisi ataupun politis adalah dengan membangkitkan jiwa progresif. Menjadi mahasiswa tidak perlu menjual potensi diri hanya untuk kelancaran kegiatan, banyak hal lain yang lebih bersih untuk mendapatkan asupan dana daripada melacur kepada senior yang punya kepentingan politis. Progresif artinya mereka yang bisa melakukan sesuatu tanpa menggunakan cara-cara kotor, mempunyai daya kreatifitas yang tinggi, dan inovasi yang solutif. Maka dari itu menjadi seorang mahasiswa harus mampu melawan godaan-godaan tersebut. Semoga dalam narasi singkat ini mampu menjadi pengingat akan pentingnya sebuah potensi mahasiswa yang sepatutnya persembahkan untuk kemaslahatan bangsa dan negara.

Penulis
M. Alfian Fachmy

Tinggalkan Balasan