Shamsi Ali: ARB yang Saya Kenal

oleh -

Sesungguhnya saya mengenal ARB (Anies Rasyid Baswedan) sejak lama. Sejak saya mahasiswa di Universitas Islam Internasional di Islamabad, Pakistan. Ketika itu saya seringkali meminjam majalah-majalah Indonesia, khususnya yang berwawasan Islam, untuk membaca pemikiran-pemikiran Ulama dan cendekiawan Indonesia. Tujuan saya ketika itu selain memang sebagai sumber informasi dan ilmu, juga mengobati rasa rindu tanah air.

Dari sanalah seringkali menemukan tulisan-tulisannya yang bernas. berbobot, dengan analisa yang dalam dan enak dicerna. Penulisnya seorang mahasiswa muda dan aktifis UGM bernama Anis Baswedan. Saya tidak terlalu mempedulikan siapa orangnya. Tapi pemikirannya yang cukup tajam, luas dan kritis itu menjadi daya tarik tersendiri.

Anies Rasyid Baswedan (ARB) tidak saja cakap dalam menuangkan pikiran-pikirannya lewat tulisan. Tulisan-tulisannya sekaligus menggambarkan ketajaman, keluwesan dan sistimatika berpikir. Belakangan saya kenal jika ARB memang aktifis pergerakan mahasiswa. Sempat menjadi ketua senat mahasiswa UGM. Sebuah wujud kepemimpinan yang tumbuh secara alami. Bukan instan.

Konon sebelum menjadi mahasiswa UGM ARB telah menunjukkan karakter Kepemimpinan itu. Di saat masih di bangku SMA beliau menjadi ketua OSIS se Indonesia. Bahkan terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Amerika. Ketika itulah beliau seringkali diundang memberikan pencerahan tentang Islam di beberapa gereja di Amerika.

Pengenalan kami dengan beliau secara dekat baru ketika beliau menempuh studi tinggi di Amerika Serikat. Ketika itu ARB mengambil S2 di Universitas Maryland. Kemudian melanjutkan studi S3 di Northern Illinois State University. Dalam kapasitas sebagai mahasiswa sekaligus cendekiawan dan aktifis, ARB seringkali diundang oleh berbagai kalangan, termasuk warga Indonesia sendiri. Seingat saya, pada masa itu ada dua bintang mahasiswa Indonesia di Amerika. Selain Anies, ada juga Eep Saifullah Fatah yang mengambil PhD program di Ohio State University.

Di berbagai acara itulah, baik di acara-acara formal seminar, dialog, konferensi, atau di acara-acara pengajian lokal saya seringkali bertemu dengan sosok ARB. Sosok yang ramah, luwes, berwawasan dengan kemampuan komunikasi yang handal. Tapi di atas semua itu beliau memiliki kepribadian yang religious dan berakhlak alkarimah.

Satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika ARB menempuh pendidikan S3 di Illinois State University itu. Ketika itu beliau diamanahi menjadi ketua pengurus Masjid di lokalitas itu. Jamaah Masjid yang beragam latar belakang itu seringkali berbeda pendapat dan cenderung terpecah. Di saat-saat seperti itulah ARB biasanya  berkomunikasi dengan saya meminta masukan untuk menghadapi situasi tersebut. Sejak itu saya mengenal kehandalan ARB untuk melakukan rekonsiliasi di antara keragaman itu.

Baca Juga:  Pangdam XVIII/Kasuari : Penerimaan Calon Bintara Baik Pria Maupun Wanita Direncanakan Ribuan Orang

Sekembali dari menimba ilmu di Amerika ARB terus mengembangkan ikhtiar untuk kontribusi terbaiknya untuk bangsa dan negara. “Indonesia Mengajar” yang beliau inisiasi adalah salah satu inisiatif terbaik anak bangsa. Inisiatif yang tidak saja menggambarkan kepedulian yang tinggi. Tapi sekaligus pembuktian tentang wawasan kebangsaan seorang ARB. Beliau paham betul bahwa salah satu permasalahan utama bangsa ini adalah kebodohan, khususnya di pedesaan-pedesaan terpencil.

Belakangan beliau terpilih menjadi rektor Universitas Paramadina. Salah satu universitas yang dikenal mengkombinasi wawasan keislaman dan kebangsaan, serta berorientasi reformasi dan perubahan. Tidak berselang lama ARB ikut membantu memenangkan paslon Jokowi-JK. Dan untuk selanjutnya duduk di kabinet Pemerintahan Jokowi-JK sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Selama menjabat menteri pendidikan beliau beberapa kali ke US, baik dalam kapasitasnya sebagai Menteri maupun sebagai seorang ahli (cendekiawan). Termasuk beberapa kali menjadi pembicara di forum PBB dan forum internasional lainnya. Dan setiap kali beliau berkunjung ke Amerika beliau pastikan bersilaturrahim dengan teman-teman lamanya.

Setelah diberhentikan oleh pemerintahan Jokowi dari posisi Menteri, beliau kemudian ditakdirkan terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Posisi yang tidak saja terhormat. Tapi sekaligus menjadi ajang tolak ukur bagi amanah yang lebih besar yang nantinya diamanahkan oleh bangsa Indonesia di masa depan.

Terakhir Anies Baswedan ke Amerika di saat menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Beliau ketika itu ditemani oleh mantan Dubes RI untuk Amerika, Dr. Dino Patti Djalal untuk menjajaki pembangunan lapangan Formula One di Jakarta. Sebuah Karya yang belakangan “deeply politicized” dan mendapat tantangan justeru dari pihak yang seharusnya mendukung. Di saat kunjungan ini pun beliau berkesempatan bertemu dan bersantap sore bersama kami.

Sebaliknya setiap kali kami ada kesempatan berkunjung ke tanah air kami pastikan untuk bersilaturrahim ke beliau. Baik di saat beliau menjabat sebagai Menteri, terlebih lagi ketika beliau telah terpilih menjadi orang nomor wahid di Ibukota negara. Terkadang pertemuan kami tanpa ada agenda tertentu. Memang didorong oleh kedekatan hati sebagai teman karib.

Baca Juga:  Kembali, Delapan Prajurit Satuan BKO Kodam XVIII/Kasuari Dinyataka Negatif Dari Corona

Terlalu banyak yang hal positif dan membanggakan yang dapat disebutkan tentang seorang ARB. Tapi satu hal yang ingin saya garis bawahi adalah “spirit survival and winning” yang beliau miliki. Hal itu dapat dirasakan ketika beliau menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Di tengah terpaan badai fitnah oleh kelompok yang kalah dan sakit hati, beliau mampu membuktikan keberhasilannya memimpin Jakarta dengan fakta dan kenyataan. Siapapun yang punya sekelumit kejujuran di hatinya akan mengakui perubahan dan perbaikan yang terjadi di Ibukota di bawah kepemimpinan ARB.

Setelah menyelesaikan janji untuk mengemban amanah sebagai Gubernur hingga akhir, kini ARB mendapat amanah baru sebagai capres RI 2024-2029 mendatang. Tentu sebagai seseorang yang mengenal baik beliau, dan didorong oleh keinginan untuk melihat Indonesia menjadi lebih baik, kami memutuskan memberikan dukungan kepada ARB pada pilpres mendatang.

Ada banyak alasan yang mendasari keputusan ini. InsyaAllah semua alasan-alasan itu akan disampaikan  secara berkala dalam tulisan-tulisan pada masanya. Kali ini saya hanya akan menyampaikan tujuh alasan penting kenapa ARB kami pandang sebagai  kandidat Presiden RI yang terideal.

Satu, Anies tidak diragukan lagi kapasitas inteletualitasnya, keluwasan wawasan dan ketajaman serta sistimatika berpikirnya. Indonesia ke depan memerlukan pemimpin yang memiliki pikiran tajam dan wawasan yang luas. Permasalahan dunia dan bangsa semakin kompleks dan memerlukan ketajaman berpikir dengan wawasan yang luas.

Dua, ARB berkarakter “cool” (adem), “wise” (bijak) dan “mature” (dewasa). Permasalahan yang kompleks di Jakarta dengan “pressure” yang tinggi ketika itu tidak menyurutkan semangat dedikasinya. Sebaliknya justeru beliau bold (kuat) dan “courageous” terus  melangkah dengan karya-karya febomenal. Kepribadian inilah yang akan menjadi modal besar bagi ARB untuk memimpin Indonesia ke depan dengan segala permasalahan dengan kompleksitas yang lebih besar.

Tiga, ARB dengan pengalamannya melanglang buana menuntut ilmu di luar negeri, menjadikannya memiliki wawasan dan pemahaman global yang mumpuni. Dunia kita saat ini adalah dunia global dengan segala permasalahannya yang semakin kompleks. Indonesia ke depan memerlukan pemimpin yang memiliki pemahaman dan wawasan serta pengalaman global yang mumpuni.

Empat, ARB memiliki keseimbangan dalam dalam kepribadian dan wawasan. Seperti yang disebutkan di atas beliau memiliki ketajaman berpikir, wawasan luas sekaligus memiliki soliditas mental spiritual. Sehingga pada akhirnya akan melahirkan kebijakan dan arah pembangunan bangsa yang berkeseimbangan dalam material-spiritual, yang pastinya berorientasi keseimbangan “hasanah fiddunya wa hasanah filakhirah”.

Baca Juga:  Zubair Nasir: Partai Gerindra Peraih Suara Perorangan Terbanyak Legislatif 2019

Lima, ARB memiliki kepribadian dan karakter yang memihak kepada mereka yang termarjinalkan (al-mustadh’afin). Walaupun datang dari kalangan keluarga pejuang, bahkan beliau sendiri secara pribadi dapat disebut sukses, namun tetap hidup sederhana. Karakter dan kepribadian seperti yang nantinya akan terefleksi dalam kebijakan-kebijakan publiknya. Keinginan untuk membangun negara semestinya tidak harus melupakan aspek “compassion” (belas kasih) kepada mereka yang lemah. Pembangunan industri misalnya tidak harus dilakukan dengan penggusuran rakyat kecil. Mungkin inilah makna sesungguhnya Kenapa ARB memulai kampanyenya dari Kampung Tanah Merah. Sebuah perkampungan yang telah lama terpinggirkan. Gubernur Anieslah yang mengupayakan perubahan di kampung ini.

Enam, ARB memiliki karakter yang beretika, baik dalam kata maupun prilaku. Indonesia adalah negara yang berkarakter, bangsa yang dikenal santun, sopan, lembut, dan ramah. Di sinilah ARB akan hadir sebagai pemimpin yang merepresentasi wajah bangsa Indonesia itu. Tentu lemah lembut dan santun ini tidak harus dipahami sebagai sikap lemah dan hilangnya ketegasan dalam prinsip.

Tujuh, ARB tidak dibayang-bayangi oleh kekuatan apapun kecuali prinsip dan idealismenya sendiri. Anies itu tegas dalam kesantunan dan santun dalam ketegasan. Walaupun didukung oleh Partai-Partai politik, ARB tidak memiliki beban untuk berbalas budi. Apalagi kepada Oligarki yang jelas punya kepentingan di balik dukungannya. Dukungan Partai-Partai  itu memang bagian dari proses yang harus dilalui. Tapi Anies tidak perlu berhutan budi dan harus membayarnya bahkan dengan merusak nilai dan wajah demokrasi itu sendiri. Hal yang sangat menonjol pada pihak lain.

Akhirnya saya selalu berharap sekaligus berdoa semoga pemilu dan pilpres mendatang berjalan aman, lancar, jauh dari ketidak jujuran sehingga dapat menghasilkan pemimpin bangsa yang berwawasan, kapabel dan berintegritas tinggi. Pemimpin yang dapat membawa Indonesia ke arah cita-cita “baldatun thoyyibatun wa Rabbin Ghafur” (Berlanjut…!).

New York, 27 Nopember 2023

Diaspora Indonesia di kota New York.


Eksplorasi konten lain dari mitra sulawesi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.