Zul nama panggilan akrabnya mengatakan bibit yang dibeli pemerintah desa bersumber dari anggaran dana desa untuk pemberdayaan petani Desa Harapan.
Ketua LSM Lira menjelaskan bahwa bibit yang dibeli oleh Kepala Desa Harapan diduga Tidak diketahui sumbernya dari mana dan jenis bibit apa saja.
“Itu yang dipertanyakan masyarakat desa harapan kecamatan Bontosikiyu,” ungkap Zulkarnain.
Anggaran yang digunakan oleh kepala desa juga tidak diketahui masyarakat oleh karena itu dipertanyakan.
Lanjut Ketua LSM Lira mengatakan kelapa yang memiliki potensi hasil tinggi, adalah bibit kelapa hibrida atau kelapa genjah, yang biasanya lebih cepat berbuah dan produktif.
“Itupun harus ada identifikasi yang akurat atau lisensi untuk memastikan keberhasilan dalam budidaya kelapa, dari pada bibit yang tidak diketahui sumbernya seharga Rp 75.000 perbiji,” singkatnya.
Proses ini melibatkan sertifikasi mutu benih untuk memastikan kualitas dan keunggulannya. Bukan bibit yang Abal-abal yang pada akhirnya merugikan masyarakat sendiri dan keuangan desa.
Berita ini tayang belum ada konfirmasi ke ke pihak pemerintah desa atau kepala desa. (#*#)
Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
