Kemungkinan kedua, menurutnya, adalah masuknya air ke dalam sistem rekahan pada zona patahan atau sesar. Jika skenario ini yang terjadi, ia menilai perlu ada peninjauan langsung untuk memastikan kondisi geologi di lapangan.
“Nah, saya belum ke lokasi. Tapi berdasarkan informasi pengetahuan yang sudah pernah saya pelajari secara teoretis, fenomena itu terjadi karena dua kemungkinan itu,” katanya.
Lanjutnya, menyebutkan bahwa ia belum dapat memastikan apakah kawasan tersebut berada di atas batuan karst atau berada pada struktur rekahan patahan. Fenomena yang disebabkan oleh batu kapur karst dinilai tidak berbahaya.
Ia menjelaskan bahwa air yang masuk ke dalam sistem bawah tanah akan kembali muncul sebagai mata air di titik lain.
“Secara geologi air akan muncul ke tempat lain, seperti mata air. Jadi sistem batu kapur aman,” ujarnya.
Namun, kekhawatiran muncul apabila aliran air tersebut justru masuk ke rekahan zona patahan atau sesar.
Kondisi itu dapat menyebabkan air tertahan di bawah permukaan pada lapisan kedap air, sehingga memenuhi tanah dan batuan di sekitarnya.
Apabila berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat mengakibatkan risiko longsor. “Tentunya harus segera di-follow up oleh instansi terkait yaitu Badan Geologi Kementerian ESDM,” tegasnya.
Dian juga menambahkan bahwa berdasarkan peta geologi regional, titik fenomena berada pada satuan geologi Andesit Maninjau yang didominasi batuan lava dan debu vulkanik.
Kondisi ini membuat fenomena tersebut menjadi lebih unik dan semakin perlu dilakukan investigasi geologi secara langsung.
“Sehingga hal ini cukup unik secara geologi dan harus dilakukan pengecekan lapangan,” ujarnya.
Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
