Bagi seorang Mukmin hendaknya dipahami kembali (perbaharui) keimanan itu pada “Qadar dan Qadha” (ketentuan dan keputusan) Pencipta dengan segala hal yang terkait dengan kehidupan.
Dua, hentikan terlalu khawatir akan masa depan. Para ahli ilmu jiwa menyimpulkan bahwa apa yang kita khawatirkan tentang masa kenyataannya 80 persen tentangnya tidak terjadi. Maka jangan buang-buang energi dan waktu untuknya.
Bagi seorang Mukmin yakinlah bahwa anda tidak memiliki pengetahuan tentang hari esok. Maka lakukan ikhtiar terbaikmu dan yakini bahwa hari esok ada dalam genggaman sang Pencipta yang mengatur dan menentukan segalanya. Ikhtiar, tawakkal, dibarengi doa dan optimisme itulah jalannya.
Tiga, hentikan mencari kebahagiaan lewat orang lain di sekitarmu. Mereka tidak akan bisa membahagiakanmu. Berharap kebahagiaan dari orang lain adalah sesuatu yang tidak mungkin. Dan hanya akan mengecewakanmu.
Kebahagiaan itu 100 persen adalah suasana batin yang ditentukan oleh cara pandang seseorang.
Ketahuilah, kebahagiaan itu datang dari dalam diri sendiri. Kebahagiaan adalah mendapatkan kedamaian dan kepuasan dalam dirimu sendiri. Dan tidak perlu tergesa-gesa dalam menemukan apa yang akan membahagiakanmu. Dan di saat telah menemukannya, jaga dan tumbuh suburkan. Bersyukur itu adalah kebahagiaan pada dirinya.
Lebih dari itu semua, bagi seorang Mukmin yakinlah jika kebahagiaan yang hakiki ada pada “mardhotillah” (keridhoan sang Pencipta alam semesta).
Semoga kita semua bisa merasakan kebahagiaan hidup, dunia-akhirat. Amin!
NY Subway, 16 Agustus 2024
Putra Kajang di NYC.
Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
