Tagar “Kabur Aja Dulu” dan Keangkuhan Para Elit

oleh -

Oleh Shamsi Ali Al-Kajangi

Akhir-akhir ini lagi ramai dibicarakan tentang tagar “kabur aja dulu”. Konon kabarnya ada seorang anak muda yang memutuskan keluar dari Indonesia dan pergi ke negara lain untuk bekerja dan menuliskan ekspresi populer itu. Ekspresi itupun menjadi trending atau viral dan banyak diperbincangkan, baik di media sosial maupun di masyarakat luas.

Jika kita melihat dengan kacamata positif (positive mind) sebenarnya ungkapan seperti itu tidak perlu dinilai negatif. Sebaliknya justeru diambil sebagai sesuatu yang bisa mendorong kepada hal-hal positif. Namun masih ada saja yang kemudian melihatnya dengan pandangan negatif. Bahkan direspon dengan respon yang tidak wajar bahkan tidak logis.

Baca Juga:  Presma Unibos Menduga Isu Virus Corona, Pelarian Kasus Genting di Indonesia

Ada seorang Menteri misalnya yang melihat tagar “kabur aja dulu” ini, bahkan secara umum menilai mereka yang tinggal dan bekerja di luar negeri sebagai sikap yang menggambarkan kurangnya nasionalisme. Seolah seorang anak bangsa yang tinggal dan bekerja di luar negeri itu kurang cinta dan kurang loyal kepada bangsa dan negaranya.

Pandangan seperti ini sangat sempit dan jelas menggambarkan pandangan seseorang yang kurang pengalaman, khususnya pengalaman luar negeri. Mungkin perlu lebih banyak jalan, asal pakai uang sendiri dan bukan uang negara. Biar banyak membuka mata dan merasakan apa makna dan rasa seorang anak bangsa di luar negeri. Jangan kayak katak di bawah tempurung. Belum pernah merasakan sebagai anak bangsa di luar negeri tapi memberikan penghakiman yang tidak pantas.

Baca Juga:  Jelang Tahun Baru, IMM Sidrap Angkat Bicara

Ungkapan tidak nasionalisme terhadap mereka yang tinggal dan bekerja di luar negeri menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apa Itu nasionalisme? Apakah nasionalisme itu terdefenisikan dengan tempat tinggal seseorang atau cara pandang dan sikap kepada bangsa dan negara? Apakah seseorang yang tinggal dan bekerja dalam negeri namun penuh dengan kejengkelan karena menghadapi sistem bernegara yang buruk itu nasionalisme? Atau tinggal dalam negeri sebagai pejabat, menyelewengkan jabatan dan korupsi dengan merugikan bangsa dan negara disebut nasionalisme?


Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.