Lebih jauh, Firdaus juga menyoroti pentingnya perlindungan hukum bagi nelayan kecil, terutama dalam hal zonasi dan jalur tangkap di wilayah perairan Selayar. Usulan ini sejalan dengan semangat keadilan sosial yang menjadi bagian dari nilai-nilai perjuangan HMI.
Gagasan-gagasan seperti ini seharusnya tidak berhenti di forum Musda. Presidium KAHMI yang baru harus mampu menampung, memperkaya, dan mengubahnya menjadi program kerja nyata bersama pemerintah daerah. Di sinilah pentingnya KAHMI hadir bukan hanya sebagai wadah alumni, tetapi juga sebagai mitra strategis Pemda, terutama dalam mendukung program prioritas daerah seperti GEMERLAP (Gerakan Menanam Lima Juta Kelapa) dan penguatan ekonomi desa.
KAHMI memiliki modal besar — jaringan alumni yang luas, pengalaman organisasi yang matang, serta kapasitas akademik yang mumpuni. Tantangannya kini adalah bagaimana modal tersebut digerakkan menjadi kekuatan kolektif yang produktif dan solutif bagi masyarakat.
Musda kali ini semestinya menjadi awal dari langkah baru. Presidium KAHMI Selayar harus menunjukkan bahwa organisasi ini tidak hanya hadir di panggung seremonial, tetapi juga turun tangan dalam menghadirkan solusi nyata: mendukung nelayan, petani, pelaku UMKM, serta memperjuangkan peningkatan mutu pendidikan dan kesehatan masyarakat pesisir.
KAHMI lahir dari rahim HMI — organisasi yang membentuk kader Insan Cita: cendekia, pencipta, dan pengabdi. Karena itu, tantangan bagi Presidium baru bukan sekadar menjaga eksistensi organisasi, tetapi memastikan bahwa KAHMI benar-benar hidup di tengah masyarakat, menjadi bagian dari gerak perubahan menuju Selayar yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan.
Kehadiran Prof. Akbar Silo, pakar pemerintahan dan akademisi senior, dalam jajaran Presidium MD KAHMI Selayar juga diharapkan menjadi energi baru bagi penguatan intelektualitas dan peran strategis KAHMI.
Sebagai inisiator sekaligus Rektor ITSBN Selayar, Prof. Akbar Silo diyakini mampu menjadi mercusuar dinamis bagi KAHMI Selayar — memadukan kecerdasan akademik, kepemimpinan moral, dan kemampuan negosiasi lintas sektor. Sosok beliau yang dikenal komunikatif dengan berbagai kalangan menjadi modal penting bagi KAHMI untuk memperkuat kemitraan dengan seluruh stakeholder pembangunan daerah.
Kini, arah sudah jelas dan momentumnya telah tiba. Tinggal bagaimana KAHMI Selayar mampu membuktikan bahwa Musda bukan sekadar formalitas, melainkan titik awal kebangkitan baru: dari wacana menuju karya, dari forum menuju aksi.
Tentang Penulis:
Fahmiy Rahman adalah alumni LIPIA Salemba Jkt, Fak.Shariah IAIN, Pesantren Darul Arqam Gombara Makassar, dan pemerhati pembangunan masyarakat di Kepulauan Selayar.
Eksplorasi konten lain dari Mitra Sulawesi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

