Opini : Pemuda Berkontribusi Untuk Ekonomi yang Mandiri

oleh -
Penulis, Fahrizal Ubbe Co-Founder MRD of Bussines dan OWNS

Makassar, MitraSulawesi.id– Di sela-sela proses pandemi covid-19 ini, kita di perhadapkan tiga varibel yang jadi substansi kita dalam memperharikan sumber daya kita, yakni sektor Kesehatan, Ekonomi dan Politik, mengapa saya mengatakan politik jadi bagian variabel substansi. Itu tidak lain, dia sebagai suatu alat kebijakan dalam mengambil keputusan kita di kedua sektor itu terjadi problem di saat pandemi seperti ini.

Kita bisa saksikan bersama data terakhir, Ahad (27/9), Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah 3.874 menjadi 275.213 orang . Jumlah pasien sembuh bertambah 3.611 menjadi 203.014 orang. Kasus meninggal bertambah 78 orang menjadi 10.386 orang, sumber detik.com

Terlepas dari data tersebut, maka tentu anggaran yang di keluarkan tentu sangat besar, dalam memberikan suntikan dana kepada pasien dan tim medis dalam penanganan covid. Tapi itu tak jadi soal karena, sudah kadi kewajiban negara dalam UUD No 40 Tahun 2009 tentang Jaminan Kesehatan yang di lindungi.

Persoalannya ada pada sektor ekonomi kIta yang sudah memasuki kuartal ke 3 di akhir bulan September ini, kata Sri Mulyani perekonomian kita minus 1,7% sampai 0,6% , ini artinya negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal ke 3, sambutan Sri Mulyani dalam video confrence APBN, Selasa (22/9) sumber Detik.com.

Sebelum ada kata terlambat, kejadian resesi kembali yang terjadi di tahun 1998 dan 2004. Maka saya mengajak untuk merefleksikan suatu soko guru kita oleh Ayahanda Sumitro Djokohadikusumo bahwa cara yang tepat untuk menghindari krisis valuta asing, ialah perkuat sektor rill yakni perdagangan domestik kita kerimbang pedangangang asing, yang orientasi perekonomian konglomerasisasi
Kembalikan khittoh koperasi sebagai alat pemersatu untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan, yang mengakar kebawah. Di harapkan pemerintah jagan jadikan soal atas hutang kita ke negara luar, membuat keputusan politik yang cenderung menguntungkan pihak investor asing.
Sejatinya seperti apa yang tertera dalam Q.S Al-Maidah yang artinya kurang lebih bekerjasamalah pada kejujuran dan kebaikan, jaganlah bekerjasama dalam keburukan dan kejahatan.

Walapun dalam arti surah itu, memberikan interpretasi abstrak yang tak menyetuh sistem lembaga dalam ekonomi. Tapi muatan di dalam mampu menjabarkan bahwa dalam bekerjasama dalam aktivitas apa saja , terkhusus di saat kondisi ekonomi bangsa kita ini sedang krisis, maka bersikap dalam belerjasama yang mengarah pada kelompok kecil yang tak di untungkan, dalam hal ini ekonominya lemah.

Kita sudah saksikan sendiri di saat krisis monter perekonomian yang tumbang ialah usahawan konglomerat bukan usahawan mandiri yakni ukmi mikro dan kecil. Karena memreka saling bekerjasama untuk membeli barang dan jasa dari si uahan mikro dan kecil dalam sandang dan pangan.

Teringat saya, Bung Hatta mengatakan bahwa di dalam Perekonomian bahwa tempatkan pada tempatnya untuk porsi yang di perhatikan mengenai penempatan pangkal dan ujung dalam proses alur pendapatan kita.

Terbukti dengan covid ini, sektor yang jadi perhatian khusus kita saat itu ada pada domestik pangan kita. Olehnya saya mengajak marilah kita sebagai anak muda yang memilki sistem imun tubuh kuat untuk mampu berkontribus besar dalam menggerakkan ekonomi mandiri lewat inovasi dan kreatifitas dalam wadah koperasi. Dimana koperasi ini mampu menjadi pondasi dasar dalam membantuk ekonomi lemah dan pelaku ukm miko dan kecil, seperti petani, pengraji , nelayan dan masuk kategori kelompok usaha kecil bisa tumbuh dan berkembang dengan adanya kontribusi anak muda yang generasi milenial yang paham akan keahlian dalam teknologi berbasis digital, sebagai instrumen penyaluran dan pemasaran online produk kelompok usaha keci.

Penulis

Fahrizal Ubbe